Menimbang Untung Rugi Devaluasi Yuan, Senjata Ekonomi China Lawan Tarif Impor Trump
- CNBC
Jakarta, VoxPop – China melakukan devaluasi mata uang Yuan sebagai bentuk balas dendam terhadap tarif impor Presiden Donald Trump. Manuver pemerintah Beijing menurunkan nilai tukar mata uangnya memiliki keuntungan dan kerugian yang tidak bisa diabaikan.
Ketegangan ekonomi global kembali meningkat setelah Trump memberlakukan tarif resiprokal terhadap 60 negara. Orang nomor satu negeri Paman Sam itu bahkan mengenakan pungutan sebesar 104 persen terhadap barang-barang asal China.
Sikap yang agresif dan 'berani' membuat pemerintah China lebih cermat dalam melawan Trump. Alih-alih mengancam dengan tarif yang lebih tinggi, Beijing justru membiarkan Yuan melemah yang langsung menjadi sorotan global.
Dikutip Nikkei Asia pada Rabu, 9 April 2025, Yuan diperdagangkan di kisaran 7,35 per dolar AS atau turun 2 persen dari nilai tukar acuan yang ditetapkan oleh Bank Sentral Rakyat Tiongkok (POBC). Nilai tersebut menjadi terendah sejak Desember 2007 silam.
Bank Sentral China
- CNBC
Penurunan nilai Yuan terhadap dolar AS sudah terjadi sehari jelang pemberlakuan tarif impor Trump. Pada Selasa, 8 April 2025, mata uang China jatuh ke level 7,34 per dolar AS atau jadi terendah dalam 19 bulan atau sejak September 2023.
Lantas apa saja keuntungan dan kerugian dari kebijakan pemerintah China yang membiarkan nilai Yuan tergerus ke level terendah? Simak ulasan berikut.
Kerugian dan Risiko Devaluasi Yuan
Dikutip Financial Times pada Rabu, 9 April 2025, Kepala Ekonom China, Robin Xing, menyoroti risiko utama adalah meningkatnya tekanan terhadap arus modal keluar dan merusak stabilitas ekonomi dalam negeri. Akibatnya, kepercayaan investor global menurun bahkan sangat memungkinkan mereka menarik dana dari China sehingga menyebabkan instabilitas di sektor keuangan domestik.
Beban utang luar negeri korporasi China juga akan meningkat karena sebagian besar dibayarkan dalam mata uang dolar AS. Dengan nilai Yuan yang lebih rendah maka biaya pelunasan utang menjadi semakin mahal sehingga menggerus profitabilitas korporasi besar.
Ilustrasi Tantangan Ekonomi
- freepik.com/freepik
Dari sisi geopolitik, devaluasi Yuan dapat memperkeruh hubungan China dengan negara lain, terutama jika dianggap sebagai bentuk manipulasi mata uang. Tuduhan seperti ini sudah dilontarkan oleh Trump dan berpotensi memicu sanksi tambahan.
