AS-China Kompak Pangkas Tarif, Kinclongnya Emas Bakal Memudar?

Logam mulia emas.
Sumber :
  • Pixabay

Jakarta, VoxPop – Harga emas dunia cenderung stagnan pada Selasa pagi, 13 Mei 2025, setelah mengalami penurunan tajam hampir 2,7 persen di sesi sebelumnya. Situasi ini seiringan dengan pelonggaran tensi dagang Amerika Serikat-China hingga kesepakatan gencatan senjata di beberapa kawasan konflik.

img_title Sindikat Penipu Penjualan Emas Dibongkar, Dikendalikan Napi Lapas di Sumut

Melansir dari CNBC, harga emas spot tercatat stagnan di level US$3.230,99 per ons atau setara sekitar Rp53,3 juta pada pukul 03.09 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS naik tipis 0,2 persen menjadi US$3.235,20 per ons, atau sekitar Rp53,4 juta.

Penurunan harga emas ini dipicu oleh beberapa perkembangan global. Salah satunya, ‘gencatan senjata’ dari perang tarif antara AS-Tiongkok. Kedua negara tersebut sepakat untuk mengurangi tarif timbal balik selama 90 hari, yang mana AS memangkas bea impor dari 145 persen menjadi 30 persen, sedangkan Tiongkok menurunkannya dari 125 persen menjadi 10 persen.

img_title Harga Emas Hari Ini 3 Agustus 2026: Antam Kinclong, Produk Global Bersinar Terdorong Ini

Ilustrasi harga emas dunia

Photo :
  • Istimewa

Kesepakatan damai antara India dan Pakistan, serta sinyal meredanya konflik antara Rusia dan Ukraina, juga turut meredakan risiko geopolitik, yang mempengaruhi harga emas. Selain itu, indeks dolar melesat, dan pasar saham global mengalami reli besar-besaran, sehingga mengurangi daya tarik aset lindung nilai seperti emas.

img_title Di Tengah Gejolak Geopolitik, Emas Diprediksi Tetap Jadi Primadona Investor

Analis memperkirakan, harga emas akan cenderung bergerak dalam kisaran sempit dalam waktu dekat. Citi menurunkan target harga emas untuk 0 hingga 3 bulan ke depan menjadi US$3.150 per ons atau sekitar Rp52 juta, dengan proyeksi harga akan bertahan di rentang US$3.000 - US$3.300 per ons atau Rp49,5 - Rp54,5 juta.

”Prospek hubungan dagang yang lebih baik antara dua ekonomi terbesar dunia telah meningkatkan selera risiko dan menurunkan permintaan aset aman,” ujar Tim Waterer, Kepala Analis Pasar di KCM Trade.

Namun, Waterer juga menambahkan bahwa pelemahan dolar sempat memungkinkan emas untuk rebound ringan. “Pembeli mungkin masih tertarik saat harga terkoreksi, mengingat risiko ekonomi dan geopolitik belum benar-benar hilang.”

Logam mulia emas.

Photo :
  • CNN Money

Pasar saat ini menantikan laporan CPI AS serta ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 55 basis poin tahun ini. Suku bunga yang lebih rendah biasanya menjadi angin segar bagi emas, namun stabilnya kondisi geopolitik bisa membatasi potensi penguatannya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut