Google AI Pecat Ratusan Pekerja, Isu Upah dan Serikat Buruh Jadi Sorotan
- Instagram/@jnthe1
Selain itu, pekerja juga menghadapi kebijakan baru yang dianggap memberatkan, termasuk kewajiban kembali ke kantor di Austin, Texas. Kebijakan ini memengaruhi mereka yang memiliki keterbatasan finansial, disabilitas, atau tanggung jawab keluarga.
Meski menangani pekerjaan yang dianggap berisiko tinggi, delapan pekerja yang diwawancara mengaku digaji rendah, tanpa kepastian kerja, dan dalam kondisi yang tidak mendukung. Dua di antara mereka bahkan telah mengajukan pengaduan ke National Labor Relations Board, menuding dipecat secara tidak adil.
Lebih lanjut, Google menegaskan bahwa para pekerja tersebut bukan karyawan Alphabet. “Individu-individu ini adalah karyawan GlobalLogic atau subkontraktornya, bukan Alphabet," kata juru bicara Google, Courtenay Mencini.
"Sebagai pemberi kerja, GlobalLogic dan subkontraktornya bertanggung jawab atas pekerjaan dan kondisi kerja karyawan mereka. Kami memandang serius hubungan dengan pemasok kami dan mengaudit perusahaan yang bekerja sama dengan kami berdasarkan Kode Etik Pemasok kami.”
“Kami sebagai penilai memainkan peran yang sangat penting, karena para insinyur yang sibuk mengutak-atik kode tidak akan punya waktu untuk menyempurnakan dan mendapatkan umpan balik yang dibutuhkan bot. Kami seperti penjaga pantai di pantai, kami ada di sana untuk memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi," kata Alex, seorang generalist rater.
“Saya sekarang lebih fokus ke hitungan waktu daripada hal lain, pekerjaan yang tadinya merangsang pikiran kini jadi membosankan,” katanya. Ia bahkan mengaku kerap diancam kehilangan pekerjaan jika tidak memenuhi target tersebut.
Upaya pekerja untuk berserikat pun disebut mendapat tekanan. Ricardo Levario, salah satu super rater, mengatakan, pihaknya mulai membangun gerakan berserikat tersebut secara diam-diam.
Jumlah anggota yang semula 18, sempat naik menjadi 60 pada Februari 2024. Namun, sejak itu, akses ke saluran komunikasi internal dibatasi, dan beberapa pekerja dipecat karena dianggap melanggar kebijakan.
Situasi ini bukan hanya terjadi di Amerika Serikat. Di berbagai belahan dunia, pekerja kontrak AI juga tengah berjuang. Misalnya, sekelompok pekerja label data di Kenya, membentuk Data Labelers Association untuk memperjuangkan upah lebih baik dan menuntut adanya dukungan kesehatan mental.
