Bos Microsoft Ketakutan Perusahannya Hancur Gara-gara AI

Satya Nadella, CEO Microsoft
Sumber :
  • https://people.com/

Jakarta, VoxPop – Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini menjadi poros persaingan utama perusahaan teknologi global. Raksasa seperti Google, Meta, hingga Microsoft, berusaha keras mengamankan posisi mereka agar tidak tergerus oleh perubahan zaman. 

img_title 3 Aplikasi AI untuk Transkrip Video 2026, Ketika Editing dan Dokumentasi Menjadi Lebih Efisien

Namun, di balik peluang besar yang ditawarkan AI, terdapat ancaman serius yang dapat mengubah peta industri. Microsoft, salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, saat ini dilaporkan menghadapi tekanan berlapis. 

Selain harus mengatasi moril karyawan yang menurun akibat PHK, perusahaan juga berhadapan dengan ketatnya persaingan AI. Lebih jauh, Chief Executive Officer Satya Nadella secara terbuka mengakui bahwa dirinya dihantui risiko AI bisa menghancurkan perusahaan yang ia pimpin.

img_title HP Android Sedang Mengalami Revolusi Besar, AI Menjadi Alasan Utama Banyak Orang Mulai Upgrade Smartphone

Ia mengatakan, moril di antara karyawan Microsoft kini menurun drastis, seiring gelombang PHK yang berdampak pada ribuan orang. Banyak karyawan mengaku hidup dalam ketakutan akan diberhentikan, atau digantikan oleh AI, seiring dengan semakin kuatnya komitmen Microsoft mengadopsi teknologi tersebut.

Kantor Microsoft.

Photo :
  • Istimewa
img_title AI Mulai Masuk Pasar Mobil Bekas, Apa Untungnya Buat Konsumen?

Dalam pertemuan internal khusus karyawan, Satya Nadella mengaku bahwa ia “dihantui” oleh kisah Digital Equipment Corporation, sebuah perusahaan komputer di awal 1970-an yang dengan cepat menjadi usang akibat IBM melakukan kesalahan strategis yang besar.

“Semua yang mungkin kita cintai selama 40 tahun bisa jadi tidak berarti,” katanya kepada karyawan di pertemuan tersebut, seperti dikutip dari Futurism, Selasa, 23 September 2025.

“Kita sebagai perusahaan, kita sebagai pemimpin, hanya akan benar-benar berharga ke depan jika kita membangun apa yang sekuler dalam hal ekspektasi, alih-alih jatuh cinta dengan apa pun yang telah kita bangun di masa lalu,” paparnya.

Di lain sisi, tekanan terhadap Microsoft untuk bertransformasi di era AI pun semakin besar. Bulan lalu, miliarder Elon Musk mengumumkan proyek AI terbarunya bernama “Macrohard,” sebuah sindiran langsung yang ditujukan ke raksasa teknologi tersebut.

"Secara prinsip, mengingat perusahaan perangkat lunak seperti Microsoft tidak memproduksi perangkat keras fisik, seharusnya mungkin untuk menirunya sepenuhnya dengan AI,” kata Musk.

Meski masih harus dilihat seberapa sukses upaya Musk untuk meniru produk-produk Microsoft seperti Office Suite dengan AI, Nadella menegaskan bahwa ia siap melepas produk jika suatu saat menjadi usang.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut