Bukan Minyak, Inilah Harta Karun yang Digenggam China Bisa Guncang Ekonomi Dunia
- The Diplomat
Jakarta, VoxPop – Perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Di tengah ketegangan itu, perhatian dunia kembali tertuju pada sekelompok logam yang dikenal sebagai rare Earth elements (logam tanah jarang) yang vital bagi industri teknologi tinggi.
China mendominasi hampir seluruh rantai pasok logam tanah jarang. Sekitar 70 persen produksi tambang dunia dan hingga 90 persen hasil olahannya dikuasai negeri Tirai Bambu, sebagaimana dikutip dari situs DW, Jumat, 31 Oktober 2025.
Laporan terbaru Badan Energi Internasional (IEA) pekan ini menyebut "konsentrasi pasar yang tinggi” di China membuat rantai pasok global di sektor strategis — mulai dari energi, otomotif, pertahanan hingga pusat data kecerdasan buatan (AI) — "rentan terhadap gangguan besar".
Unsur logam tanah jarang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Berkat sifat fisik, magnetik, dan kimianya yang unik, logam ini menjadi bahan utama untuk membuat magnet permanen, yang tak kehilangan daya meski tanpa sumber listrik.
Dari ponsel pintar (smartphone), laptop, mobil hibrida, turbin angin, hingga panel surya—semuanya bergantung pada logam langka. Bukan itu saja. Rare Earth juga menjadi bahan vital dalam teknologi pertahanan: mesin jet tempur, sistem kendali rudal, pertahanan antirudal, satelit luar angkasa, hingga jaringan komunikasi militer.
Meski disebut "langka”, unsur ini sebenarnya cukup melimpah di kerak Bumi, bahkan lebih banyak dari tembaga atau emas. Namun, mereka jarang ditemukan dalam konsentrasi yang cukup tinggi untuk ditambang secara ekonomis.
Selain di China, cadangan logam tanah jarang juga ada di Kanada, Australia, Amerika Serikat, Brasil, India, Afrika Selatan, dan Rusia. Unsur-unsur ini terbagi dua jenis utama berdasarkan proses pemisahannya: light rare Earths dan heavy rare Earths.
China memiliki hampir monopoli penuh, terutama untuk pengolahan kategori kedua. Menurut Benchmark Mineral Intelligence, lembaga riset energi asal Inggris, perusahaan China menguasai hingga 99 persen pengolahan heavy rare Earths dunia.
Amerika Serikat (AS) pernah swasembada dalam produksi logam langka. Namun, dalam dua dekade terakhir, China mengambil alih pangsa pasar dan perlahan menguasai rantai pasok global. Dominasi itu sudah terlihat sejak sepuluh tahun lalu.
