Menguak Tren Job Hugging, Ketika Karyawan Takut Resign Gara-gara Pasar Kerja Makin Suram

Ilustrasi gen z bekerja
Sumber :

Jakarta, VoxPop – Beberapa tahun terakhir, dunia kerja diwarnai istilah baru yang menggambarkan realitas pahit. Tren itu yakni job hugging atau jika diartikan adalah 'memeluk pekerjaan'. 

img_title Tes Insolvensi Wajib Dinilai Mampu Lindungi Perusahaan Sehat dari Pailit Prematur, Begini Penjelasannya

Fenomena ini menggambarkan kondisi di mana banyak pekerja memilih bertahan di tempat kerja mereka saat ini, bukan karena mereka bahagia atau setia pada perusahaan, melainkan karena takut menghadapi pasar kerja yang semakin tidak menentu.

Setelah masa pandemi melahirkan tren “Great Resignation” atau masa di mana banyak orang berani meninggalkan pekerjaan alias resign karena yakin mudah mendapatkan peluang baru, kini tren itu berbalik arah. 

img_title LIXIL Ungkap Perubahan Tren Konsumen Produk Sanitasi

Di tengah meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI), penggabungan beberapa posisi menjadi satu, dan meningkatnya angka pemutusan hubunga kerja (PHK), banyak pekerja justru merasa lebih aman untuk bertahan daripada harus menghadapi risiko penolakan saat mencari pekerjaan baru.

Fenomena job hugging ini muncul karena banyak perusahaan membuka lowongan tanpa benar-benar berniat merekrut. Posisi yang diiklankan sering kali hanya formalitas, sementara di sisi lain, beberapa perusahaan justru menggantikan tenaga manusia dengan teknologi. 

img_title 5 Profesi Baru dengan Gaji Menarik, Ada Peluang Karier dengan Masa Depan Menjanjikan

"Astaga, saya bahkan tidak bisa menyebutnya kompetitif lagi saat ini. Saya sudah mengirimkan begitu banyak lamaran, tetapi hanya mendapat penolakan langsung atau tidak ada kabar sama sekali,” curhat seorang pencari kerja, sebagaimana dikutip dari Independent, Rabu, 5 November 2025.

Ilustrasi Stres Kerja di Hari Senin

Photo :
  • Freepik

Situasi ini menjadi semakin sulit bagi para lulusan baru. Mereka tidak memenuhi syarat untuk posisi senior yang kini menuntut pengalaman tinggi, namun juga kesulitan menemukan posisi pemula, karena sedikit pekerja yang bersedia resign.

Menurut Mary Cavanaugh, Wakil Presiden Senior Manajemen Karier di Keystone Partners, fenomena job hugging didorong oleh rasa takut. “Kenyamanan perlahan berubah menjadi kelengahan,” ujarnya. 

“Salah satu dampak negatif dari job hugging adalah ketika seseorang bertahan terlalu lama karena rasa takut dan sikap pasif. Itu tidak membantu perkembangan karier maupun organisasi,” ungkapnya. 

Selain rasa takut, faktor ekonomi juga berperan besar. Setelah sistem pensiun di banyak perusahaan dihapus, cara paling umum untuk menaikkan gaji biasanya adalah pindah kerja dan menegosiasikan kenaikan bayaran. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut