Serangan Siber di Sektor Manufaktur Kian Mengkhawatirkan, Mesin Produksi Bisa Lumpuh!
- freepik.com/freepik
Jakarta, VoxPop – Ancaman siber di sektor manufaktur kian berkembang dan semakin sulit diprediksi. Di Indonesia dan kawasan regional, pelaku industri menghadapi pemantauan hingga percobaan serangan setiap hari.
Perusahaan keamanan siber dan kecerdasan buatan (cyber-AI), PT ITSEC Asia Tbk, menyoroti urgensi kesiapan industri nasional menghadapi gelombang serangan yang menyasar lingkungan operasional. Peringatan ini merujuk pada pandangan Presiden Direktur & CEO ITSEC Asia, Patrick Dannacher, dalam pemaparannya bertajuk Cyber Threats Are Getting Smarter, Is Indonesia's Smart Manufacturing Ready?.
Perusahaan menekankan bahwa ransomware dan serangan supply chain bukan lagi ancaman abstrak. Dannacher menyampaikan profil risiko industri manufaktur berubah dengan cepat akibat meningkatnya konektivitas cloud, penggunaan Internet of Things (IoT), hingga penyatuan sistem operational technology (OT) dan information technology (IT).
Menurutnya, transformasi digital tanpa keamanan sejak awal hanya akan membuka permukaan serangan yang lebih luas. Ia juga menyoroti perubahan target serangan siber dari menyasar jaringan kantor, kini ancaman bergerak langsung ke lini produksi.
Bentuk serangannya meliputi laptop terinfeksi, akun pemasok yang dibajak, hingga koneksi jarak jauh yang tidak aman. Alhasil, produksi terganggu dan menimbulkan kerugian besar imbas hilangnya output, meningkatnya risiko keselamatan, hingga potensi penalti kontraktual.
Ilustrasi serangan hacker atau siber.
- Science News
Sumber kerentanan lain datang dari integrasi mesin-mesin lama yang tidak dirancang untuk konektivitas modern. Banyak pabrik masih mengoperasikan perangkat puluhan tahun yang langsung terhubung ke jaringan IT atau cloud tanpa perlindungan memadai.
Kondisi ini menimbulkan risiko seperti jaringan datar, protokol industri yang tidak aman, firmware usang, hingga penggunaan kredensial bawaan. Jika tereksploitasi, jalur serangan dapat bergerak dari komputer kantor menuju PLC atau HMI di area produksi.
Terkait ransomware, ITSEC Asia mengingatkan pabrik untuk memandang ancaman ini sebagai "kapan", bukan "jika". Saat OT dan IT terhubung, peluang serangan bergerak lateral meningkat drastis. Dampaknya bisa berupa berhentinya produksi, ancaman keselamatan, hingga kerugian reputasi. Karena itu, perusahaan perlu memiliki incident response plan khusus OT, cadangan data andal, prosedur pemulihan yang rutin diuji, serta monitoring dan threat hunting 24/7.
