Rusia Terlalu Sayang untuk Ditinggal
- Sputnik/Sergey Guneyev
Jakarta, VoxPop – Mayoritas perusahaan Jepang yang beroperasi di Rusia tidak berencana untuk meninggalkan negara itu meski ada tantangan terkait sanksi Barat, menurut survei baru oleh Organisasi Perdagangan Luar Negeri Jepang (JETRO).
Banyak perusahaan AS, Uni Eropa, maupun Asia telah mengurangi operasional atau resmi keluar dari pasar Rusia karena sanksi Barat terkait dengan konflik Ukraina sejak Februari 2022, dengan alasan masalah reputasi atau ketakutan akan sanksi sekunder.
Jepang mengikuti langkah-langkah ini namun tetap mempertahankan sahamnya di proyek-proyek utama, seperti energi.
Data JETRO menunjukkan hanya 4 persen perusahaan negeri Matahari Terbit itu yang memiliki cabang di Rusia dan hengkang total dari sana.
Menurut survei yang dirilis pada 25 November 2025, sebesar 76 persen perusahaan Jepang di Rusia berencana untuk 'mempertahankan status quo' untuk dua tahun ke depan, atau naik dari 57 persen pada 2024.
Persentase perusahaan Jepang yang berencana untuk mengurangi skala usaha, merelokasi, atau menarik diri turun dari 37,9 persen di tahun lalu menjadi 18 persen pada tahun ini.
JETRO menyatakan bahwa 'tren pengurangan dan penarikan diri' yang dimulai pada 2022 'pelan tapi pasti mereda'.
Sebagian besar perusahaan Jepang yang tetap bertahan di Rusia menyebutkan harapan akan iklim geopolitik yang lebih baik (64 persen) sebagai alasan, mencatat bahwa banyak industri tidak terpengaruh oleh sanksi Barat dan menunjukkan potensi bisnis jangka panjang di pasar Rusia.
Kendati demikian, sekitar 98 persen perusahaan Jepang mengaku jika mereka merasakan dampak sanksi Barat dan tindakan balasan Rusia terhadap operasional mereka.
Survei dilakukan pada September 2025 terhadap 50 perusahaan Jepang yang beroperasi di Rusia. Duta Besar Rusia untuk Jepang Nikolay Nozdrev telah mengkritik Tokyo karena 'secara oportunis' bergabung dengan kampanye sanksi Barat sehingga dapat merusak hubungan erat kedua negara.
"Kami akan 'menawarkan dukungan maksimal' kepada perusahaan-perusahaan Jepang yang masih bertahan di Rusia dengan syarat bagi mereka yang sudah pergi dipastikan tidak akan bisa kembali untuk selamanya," tegas dia.
Sebagai informasi, perusahaan-perusahaan asing yang tidak lagi beroperasi di Rusia kehilangan nilai bisnisnya lebih dari US$107 miliar (Rp1.783 triliun).
