Makin Banyak Pengangguran Gara-gara AI Gantikan Pekerja Manusia? Ini Riset Terbarunya

Ilustrasi robot dan manusia bekerja bersama
Sumber :
  • Freepik

Jakarta, VoxPop – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kerap dipersepsikan sebagai ancaman besar bagi dunia kerja. Kekhawatiran ini diperkuat oleh peringatan para bos perusahaan teknologi, laporan bank sentral AS, hingga cerita pekerja yang merasa posisinya mulai tergeser oleh otomatisasi. 

img_title 7 Kecanggihan Kacamata Pintar Modern, Fitur Rekam Video yang Mengubah Industri Konten Kreator

Tak sedikit yang percaya AI akan menjadi “pengganti manusia” dalam waktu dekat. Namun riset terbaru justru menunjukkan gambaran yang berbeda. 

Setidaknya untuk saat ini, AI belum menghantam pasar tenaga kerja seperti yang banyak ditakutkan. Bahkan, pekerjaan yang paling rentan terhadap otomatisasi AI justru mengalami pertumbuhan lebih cepat dibandingkan sebelum pandemi.

img_title Identitas 4 Pekerja Proyek Jalan Korban Penyerangan KKB di Tolikara

Penelitian dari Vanguard menemukan bahwa pekerjaan yang sangat terekspos otomatisasi AI tumbuh lebih cepat dibandingkan periode sebelum Covid-19, bahkan melampaui pertumbuhan pekerjaan lainnya.

Ilustrasi robot.

Photo :
  • BBC/Getty Image.
img_title Menaker Yassierli Tegaskan Penyandang Disabilitas Harus dapat Peluang Kerja Setara

Pekerjaan yang masuk kategori ini mencakup staf administrasi kantor, juru ketik, asisten HR, staf hukum, hingga data scientist. Posisi tersebut dikenal dengan porsi jam kerja tinggi yang secara teoritis bisa diotomatisasi AI.

Menurut Vanguard, tingkat penyerapan tenaga kerja di kelompok pekerjaan yang paling terpapar AI naik 1,7 persen pada periode pasca-Covid, yakni pertengahan 2023 hingga pertengahan 2025. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 1 persen pada periode pra-Covid 2015–2019.

Sebaliknya, pertumbuhan lapangan kerja di sektor lain justru melambat. “Secara garis besar, kami belum melihat bukti bahwa peran yang terekspos AI mengalami penurunan lapangan kerja,” kata Adam Schickling, ekonom senior Vanguard, sebagaimana dikutip dari CNN, Jum'at, 19 Desember 2025.

Ia menegaskan bahwa perbandingan sengaja tidak dilakukan dengan periode 2020–2022 karena kondisi pasar kerja saat itu dianggap tidak normal dan tidak relevan sebagai patokan. Tak hanya dari sisi jumlah pekerjaan, data upah juga memberikan kejutan. 

Vanguard mencatat bahwa pekerjaan dengan paparan AI tinggi hanya mengalami pertumbuhan upah riil 0,1 persen sebelum pandemi. Namun pada periode pasca-Covid, angka itu melonjak menjadi 3,8 persen, setelah disesuaikan dengan inflasi.

Sebagai pembanding, pekerjaan lain yang relatif minim paparan AI hanya mencatat kenaikan upah riil dari 0,5 persen menjadi 0,7 persen. Jika AI benar-benar menghancurkan pasar kerja, dampaknya seharusnya terlihat dari gaji yang menyusut. Namun data justru menunjukkan sebaliknya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut