Cuaca Ekstrem Tingkatkan Klaim Asuransi Sepanjang 2025
- Pexel
Jakarta, VoxPop – Asuransi bencana memegang peran krusial dalam menjaga ketahanan finansial masyarakat dan dunia usaha di tengah meningkatnya cuaca ekstrem yang menyebabkan risiko bencana alam di Indonesia. Mulai dari banjir, gempa bumi, hingga kebakaran, seluruh risiko tersebut kian menunjukkan tren peningkatan baik dari sisi frekuensi maupun tingkat keparahan kejadian.
Direktur Teknik Operasi Indonesia Re, Delil Khairat, mengungkapkan bahwa lonjakan kejadian bencana alam sepanjang 2025 merupakan kelanjutan dari tren yang telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Secara khusus, bencana hidrometeorologi yang berkaitan dengan perubahan cuaca dan iklim menjadi kontributor utama meningkatnya klaim asuransi.
“Frekuensi dan severity bencana alam, terutama yang terkait iklim, meningkat secara konsisten dari tahun ke tahun. Sepanjang 2025 kita mencatat klaim besar mulai dari Jakarta dan sekitarnya pada Maret, kemudian Bali, dan puncaknya saat ini di wilayah Sumatra,” ujar Delil dalam keterangannya, dikutip Senin, 5 Januari 2025.
Banjir besar yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dinilai memiliki skala klaim yang sangat signifikan. Namun demikian, proses penghitungan klaim tidak dapat dilakukan secara cepat karena masih terbatasnya akses di lapangan.
“Hambatan akses untuk melakukan verifikasi dan penilaian kerugian membuat proses klaim menjadi lebih kompleks. Bahkan hingga kini, tim klaim dan loss adjuster masih menghadapi kesulitan untuk turun langsung ke lokasi,” jelasnya.
Delil menambahkan, apabila besaran klaim nantinya tergolong sangat besar, maka penanganannya tidak hanya melibatkan perusahaan asuransi dan reasuransi dalam negeri, tetapi juga reasuransi luar negeri.
Hal ini terjadi karena struktur perlindungan risiko bencana umumnya melibatkan beberapa lapis kontrak, mulai dari polis asuransi antara perusahaan asuransi dan tertanggung, perjanjian reasuransi dengan reasuransi lokal, hingga retrocession dengan reasuransi global.
“Dengan skala seperti ini, risiko harus disebar secara internasional agar stabilitas industri tetap terjaga,” katanya.
Dari sisi lini bisnis, Delil memproyeksikan bahwa asuransi umum akan menjadi sektor yang paling terdampak akibat bencana banjir, dibandingkan asuransi jiwa. Hal ini terutama karena kerusakan fisik terhadap aset.
