Survei: Gen Z Anggap Pekerjaan Seperti ‘Situationship’, Apa Artinya?

Ilustrasi Gen Z.
Sumber :
  • freepik.com

Jakarta, VoxPop – Generasi Z atau kelompok pekerja yang lahir antara 1997–2012, membawa perspektif baru di dunia kerja. Berbeda dari generasi sebelumnya, mereka tumbuh sebagai digital natives yang terbiasa dengan informasi instan, fleksibilitas, dan mobilitas tinggi. 

img_title 10 Keunggulan Aplikasi AI dalam Dunia Kerja, Dari Menyusun Strategi hingga Membantu Pengambilan Keputusan Lebih Cepat

Hal ini turut memengaruhi cara mereka menilai pekerjaan dan hubungan dengan perusahaan.

Dalam kondisi ekonomi yang menantang dan biaya hidup yang semakin tinggi, Gen Z menempatkan prioritas berbeda, bukan sekadar loyalitas pada satu perusahaan, tetapi pengalaman, gaji, dan kesehatan mental yang seimbang. Tren ini terlihat jelas dari survei terbaru yang dilakukan Gateway Commercial Finance.

img_title Analisis Mendalam Aplikasi AI 2026, Teknologi yang Sedang Mengubah Cara Dunia Bekerja Lebih Cepat dari Perkiraan

Survei yang melibatkan lebih dari 1.008 responden, setengahnya Gen Z dan setengahnya manajer atau pekerja dengan pengalaman perekrutan, mengungkap fakta mengejutkan. Sebanyak 58 persen responden melihat pekerjaan mereka sebagai ‘situationship’. 

Artinya, pekerjaan dianggap hubungan jangka pendek dengan komitmen rendah yang tidak dimaksudkan untuk bertahan lama. Hampir setengah Gen Z, atau 47 persen, menyatakan berencana meninggalkan pekerjaan dalam satu tahun pertama. 

img_title Tes Insolvensi Wajib Dinilai Mampu Lindungi Perusahaan Sehat dari Pailit Prematur, Begini Penjelasannya

Bahkan, banyak yang siap mengundurkan diri kapan saja jika muncul peluang lebih menarik. Survei menunjukkan bahwa hanya 25 persen Gen Z yang benar-benar menilai peran mereka sebagai kesempatan jangka panjang, sementara 37 persen melihat pekerjaan sebagai sumber gaji semata.

Masih berdasarkan survei, 55 persen menyebut gaji lebih tinggi di tempat lain sebagai faktor utama. Selain itu, 34 persen melaporkan mengalami kesehatan mental yang buruk atau burnout, dan 22 persen merasa tidak dihargai atau diakui di tempat kerja. 

Kurangnya loyalitas jangka panjang menjadi perhatian bagi perusahaan. Satu dari empat manajer menganggap pengalaman kerja singkat, kurang dari satu tahun, di CV Gen Z sebagai red flag, sementara lebih dari sepertiga mengaku menolak kandidat karena kebiasaan job-hopping ini. 

Ilustrasi Gen Z

Photo :
  • Freepik.com

Fenomena ini memaksa perusahaan menyesuaikan strategi rekrutmen, termasuk menawarkan budaya kerja yang lebih fleksibel dan penghargaan yang nyata. Meski terlihat sering berpindah kerja, Gen Z tetap menunjukkan kepedulian pada kestabilan finansial. 

Studi Better Money Habits Bank of America 2025 mencatat 72 persen Gen Z mengambil langkah untuk memperbaiki kesehatan keuangan mereka sepanjang tahun. Namun, dukungan finansial dari keluarga menurun, hanya 39 persen dibanding 46 persen pada 2024.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut