Penyebab Harga Emas Antam 'Menggila' di Angka Rp3,1 Juta: Isu Greenland dan Tarif Trump Jadi Pemicu Utama

Petugas menunjukkan emas Antam di Butik Antam Pulo Gadung, Jakarta (foto ilustrasi)
Sumber :
  • Antara Foto/Aditya Pradana Putra

Jakarta, VoxPop – Laju kenaikan harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) belum menunjukkan tanda-tanda mereda secara signifikan. Pada perdagangan Jumat, 30 Januari 2026, harga emas Antam bertengger di level Rp3.120.000 per gram. Jika ditarik garis ke belakang, angka ini merefleksikan lonjakan yang luar biasa, pasalnya pada 1 Januari 2026, harga emas masih berada di posisi Rp2.488.000 per gram.

img_title Hamas Respons Pernyataan Trump: Tidak Ada Pelucutan Senjata Sebelum Israel Mundur dari Gaza

Lonjakan ini bukan tanpa alasan. Para pelaku pasar melihat instrumen logam mulia tengah bereaksi terhadap fase "Chaos Mode" yang melanda ekonomi global, dipicu oleh kombinasi eskalasi geopolitik dan ketidakpastian kebijakan moneter di Amerika Serikat.

Geopolitik dan Ancaman Proteksionisme

img_title Donald Trump Rilis Pernyataan Lengkap soal Klaim Hamas Sepakat Lucuti Senjata, Israel Masih Bungkam

Sentimen utama yang menggerakkan pasar pekan ini adalah manuver politik luar negeri Donald Trump. Laporan Bloomberg menyoroti ketegangan diplomatik yang meruncing terkait ambisi strategis AS di Greenland. Isu ini menciptakan keretakan yang tidak terduga pada stabilitas NATO, yang secara otomatis memicu pelarian modal ke aset safe haven.

Analis dari Capital.com dalam catatan risetnya menekankan bahwa pasar sedang merespons risiko geopolitik tanpa preseden. "Emas kembali menjadi satu-satunya tempat berlindung ketika aliansi tradisional Barat mulai menunjukkan keretakan," tulis tim riset tersebut.

img_title Trump Umumkan Kesepakatan Pelucutan Senjata Hamas di Gaza

Di sisi lain, laporan Wall Street Journal mengenai potensi intervensi politik terhadap independensi Federal Reserve (The Fed) kian memperburuk keadaan. Keraguan pasar atas independensi bank sentral AS dalam menghadapi inflasi akibat tarif impor baru telah mendorong harga emas spot dunia melesat melampaui level psikologis USD 5.500 per troy ons.

Tekanan Rupiah dan Respons World Gold Council

Bagi investor di dalam negeri, kenaikan ini terasa lebih tajam akibat fenomena double kill. Selain mengikuti reli harga global, nilai tukar Rupiah yang terdepresiasi ke kisaran Rp16.800 - Rp17.000 per Dolar AS semakin mengerek harga konversi emas domestik.

Merespons tren ini, World Gold Council (WGC) dalam ulasan pasar terbarunya mencatat lonjakan permintaan emas fisik yang signifikan di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dewan pakar WGC menilai telah terjadi pergeseran paradigma pada investor ritel. Emas kini tidak lagi sekadar instrumen investasi jangka panjang, melainkan telah menjadi instrumen penyelamat nilai kekayaan (wealth preservation) yang paling krusial. Di tengah volatilitas mata uang dan ancaman inflasi global, kepemilikan aset fisik dianggap sebagai strategi paling efektif dalam melindungi portofolio.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut