Profesi Blue-Collar Terancam! Robot AI Bakal Bisa Gantikan Tukang Las hingga Teknisi Listrik

Ilustrasi robot.
Sumber :
  • BBC/Getty Image.

Jakarta, VoxPop – Teknologi kecerdasan buatan (AI) terus berkembang pesat, tidak hanya di dunia digital, tetapi kini mulai merambah dunia fisik. Dari mobil swakemudi hingga robot yang bisa bekerja di lokasi konstruksi, AI semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. 

img_title 7 Kecanggihan Kacamata Pintar Modern, Fitur Rekam Video yang Mengubah Industri Konten Kreator

Perkembangan ini menimbulkan pertanyaan, seberapa siap pekerja menghadapi era robot yang semakin cerdas?

Bagi sebagian orang, AI mungkin terdengar seperti masa depan yang jauh. Tapi kenyataannya, banyak startup yang kini menginvestasikan miliaran dolar untuk menciptakan robot yang dapat menggantikan tugas-tugas manusia, terutama pekerjaan yang membutuhkan fisik dan ketangkasan.

img_title 3 Aplikasi AI untuk Transkrip Video 2026, Ketika Editing dan Dokumentasi Menjadi Lebih Efisien

Melansir dari laporan Axios, Jumat, 6 Februari 2026, startup AI tengah menggalang miliaran dolar untuk mengembangkan “otak” robot yang dapat bekerja di berbagai sektor, mulai dari rig minyak hingga konstruksi dan logistik. Tujuan utamanya adalah menciptakan robot yang memahami fisika dan kondisi dunia nyata, sehingga bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah-ubah.

Bentuk robot tidak selalu humanoid, yang terpenting adalah kemampuan dan fungsi. Jika robot memiliki kemampuan fisik untuk melakukan suatu tugas, maka kemungkinan besar ia juga bisa memiliki “pengetahuan fleksibel”. 

img_title HP Android Sedang Mengalami Revolusi Besar, AI Menjadi Alasan Utama Banyak Orang Mulai Upgrade Smartphone

Pekerjaan seperti plumbing, kelistrikan, pengelasan, perbaikan atap, servis mobil, hingga memasak, akan bisa dilakukan robot dengan AI. Meski potensinya besar, belum ada kesepakatan tentang cara terbaik menerapkan AI dalam robotika. 

Beberapa perusahaan mengumpulkan data dunia nyata untuk melatih model AI mereka. Sementara itu, pendekatan “world models” menggunakan data simulasi fisik dunia nyata. Cara ini lebih murah karena memanfaatkan pemahaman dasar seperti gravitasi, dan didukung oleh Yann LeCun, mantan kepala ilmuwan AI di Meta yang kini membentuk perusahaan AMI Labs.

Di sisi pendanaan, Toronto-based Waabi berhasil menggalang hingga US$1 miliar atau setara Rp16,8 triliun. Ini kemungkinan menjadi pendanaan terbesar untuk startup Kanada. Fokus awal mereka adalah robo-taxi dan truk swakemudi. 

“Jelas bahwa momen AI real secara fisik sudah tiba,” kata pendiri dan CEO Waabi, Raquel Urtasun. “Otonomi adalah aplikasi pertama di mana skala akan terjadi,” ujarnya. 

Pittsburgh-based Skild AI baru saja mengumpulkan US$1,4 miliar atau Rp23,52 triliun, dengan valuasi US$14 miliar atau Rp235,2 triliun. Moto mereka adalah “Any robot. Any task. One brain.”

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut