Rupiah Melemah saat Beban Utang Naik & Kinerja APBN Dinilai Gali-Tutup Lubang

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
Sumber :
  • VoxPop.co.id/M Ali Wafa

Jakarta, VoxPop – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

img_title Rupiah Balik Melemah ke Rp 18.013 usai Rilis soal Ekspansi PMI Manufaktur dan Deflasi Juli 2026

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.899 per Kamis, 12 Maret 2026. Posisi rupiah itu melemah 99 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.867 pada perdagangan Rabu, 11 Maret 2026.

Sementara perdagangan di pasar spot pada Jumat, 13 Maret 2026 hingga pukul 09.01 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.912 per dolar AS. Posisi itu melemah 19 poin atau 0,11 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.893 per dolar AS.

img_title Purbaya: Realisasi Anggaran MBG Capai Rp 101,1 Triliun hingga Akhir Kuartal II-2026

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar

Photo :
  • VoxPop.co.id/M Ali Wafa

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pengelolaan APBN sampai Februari 2026 mencatatkan kinerja positif, baik dari sisi penerimaan pajak dan belanja negara. Penerimaan pajak tercatat tumbuh di atas 30 persen. Sementara itu, penyerapan belanja tumbuh 41,9 persen.

img_title Dampak Positif BI Rate Naik, Destry: Modal Asing US$9 Miliar Masuk RI di Kuartal II-2026

Meski demikian, kalau melihat postur realisasi anggaran secara lengkap, APBN 2026 sampai Februari 2026 masih gali lubang tutup lubang. Hal itu tampak dari realisasi keseimbangan primer yang mencatatkan defisit Rp 35,9 triliun.

Di sisi lain, beban bunga utang semakin naik. Angka keseimbangan primer yang defisit juga mengonfirmasi bahwa pemerintah menarik utang baru untuk menambal pokok lama. 

Kendati demikian, jika mengacu kepada definisi di atas, angka estimasi pembayaran bunga utang pada bulan lalu telah mencapai Rp 99,8 triliun, yang diperoleh dari selisih antara defisit anggaran dengan realisasi keseimbangan primer.

Artinya, jika defisit tercatat sebesar Rp 135,7 triliun dan defisit keseimbangan primer Rp 35,9 triliun, maka selisihnya atau pembayaran bunga utang sebesar Rp99,8 triliun. Jumlah itu setara 16,64 persen dari pagu pembayaran bunga utang 2026 sebesar Rp 599,4 triliun. 

Nilai perkiraan pembayaran bunga utang itu naik sebesar 25,8 persen dari Februari 2025, yang diestimasi sebesar Rp 79,3 triliun. Selain itu, pembayaran bunga utang itu setara 28,8 persen dari total realisasi belanja pemerintah pusat pada bulan Februari 2026 senilai Rp 346,1 triliun. 

Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan penyerapan anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp 44 triliun per 9 Maret 2026, atau belanja subsidi dan kompensasi yang hanya sebesar Rp 51,5 triliun hingga Februari 2026.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut