Bos BI Akui Perang di Timur Tengah Bikin Prospek Ekonomi Global Makin Buruk

Gubernur BI, Perry Warjiyo
Sumber :
  • [tangkapan layar]

Jakarta, VoxPop – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menilai, perang Timur Tengah antara Iran melawan Amerika Serikat (AS)-Israel, yang terjadi sejak akhir Februari 2026 lalu, telah memperburuk kondisi dan prospek perekonomian global.

img_title Tercatat Melambat, Ekonomi Indonesia Kuartal II-2026 Hanya Tumbuh 5,29 Persen

Dia menambahkan, hal itu telah menyebabkan melonjaknya harga minyak dunia, yang turut berdampak negatif terhadap rantai pasok perdagangan antar negara 

"Sehingga menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi dunia dan meningkatkan tekanan inflasi global," kata Perry dalam telekonferensi pers, Selasa, 17 Maret 2026

img_title Sektor Keuangan RI Terjaga, Bos OJK Tetap Waspadai Beragam Potensi Imbas Ketidakpastian Global

Ketua Umum Pengurus Pusat ISEI Perry Warjiyo.

Photo :
  • Dokumentasi ISEI.

Dia menambahkan, pasar keuangan global juga ikut memburuk dengan menguatnya mata uang dolar Amerika Serikat (AS), yang diikuti dengan meningkatnya imbal hasil (yield) US Treasury, serta terjadinya arus modal keluar dari emerging market.

img_title Masuk Bulan Agustus, Polri Pastikan Tak Ada Gangguan Kamtibmas di Pusat Ekonomi Nasional

Dengan demikian, meskipun terjadi penurunan tarif resiprokal AS, namun pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2026 diperkirakan akan lebih lambat menjadi 3,1 persen dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 3,2 persen.

Tekanan inflasi global juga meningkat dari 3,8 persen menjadi 4,1 persen, sehingga mempersempit ruang penurunan kebijakan moneter global termasuk kemungkinan semakin tertundanya penurunan Fed Funds Rate (FFR).

Bahkan, lanjut Perry, suku bunga yield US Treasury juga terus meningkat, akibat membengkaknya defisit fiskal AS termasuk kenaikan anggaran untuk pembiayaan perang.

Premi risiko inflasi global meningkat sehingga mengakibatkan bergesernya aliran modal ke safe haven asset terutama ke pasar uang AS. Sementara indeks mata uang AS terhadap mata uang negara maju dan negara berkembang juga terus menguat.

Perry pun menegaskan, berbagai indikator mengenai dampak perang Timur Tengah terhadap kondisi global terus menunjukkan bahwa memburuknya perekonomian dan pasar keuangan global akibat perang Timur Tengah tersebut semakin menekan mata uang emerging market dan mempersulit pengelolaan perekonomiannya,

Kondisi tersebut mengharuskan penguatan respon dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna mempertahankan ketahanan eksternal dan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud

Tumbuh 5,29 Persen, BPS Ungkap Faktor Penopang Utama Ekonomi RI di Kuartal II-2026

BPS mencatat bahwa pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal II-2026, tercatat tumbuh sebesar 2,67 persen dengan distribusi yang mencapai sebesar 53,32 persen.

img_title
VoxPop.co.id
5 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut