Harga Emas Dunia Naik 3 Persen, Analis Sebut Ini Momen Terbaik Serok

Ilustrasi Emas.
Sumber :
  • www.freepik.com

Jakarta, VoxPopHarga emas dunia naik lebih dari 3 persen pada perdagangan Jumat, 27 Maret 2026. Lonjakan pesat ini didorong aksi beli saat harga terkoreksi (buy on dip) setelah logam mulia berwarna kuning ini sempat melemah pada awal pekan serta harapan pelaku pasar terkait meredanya konflik di Timur Tengah.

img_title Harga Emas Antam Hari Ini 1 Agustus 2026 Ambles Rp20.000, Buyback Ikut Turun Jadi Rp2,368 Juta

Harga emas global tercatat naik 3,6 persen menjadi US$4.536,29 atau sekitar Rp 77 juta (estimasi kurs Rp 16.980 per dolar AS) per ons.  Sedangkan kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman April juga menguat 3,6 persen menjadi US$4.533,70 atau setara Rp 76,95 juta. 

Analis senior pasar dari RJO Futures, Daniel Pavilonis, menilai penurunan harga sebelumnya justru menjadi peluang menarik bagi investor untuk masuk ke pasar emas. Bahkan, harga emas sempat berada di bawah rata-rata pergerakan 200 hari. 

img_title Harga Emas Antam 30 Juli 2026 Naik ke Rp2,616 Juta per Gram, Emas Dunia Ikut Melonjak!

“Penurunan harga baru-baru ini menciptakan peluang yang sangat baik karena pasar sempat turun… ini adalah waktu yang luar biasa untuk membeli emas,” ucap Pavilonis dikutip dari CNBC Internasional, Minggu, 29 Maret 2026. 

Ilustrasi Emas

Photo :
  • Bangkok Post
img_title Kemarau Panjang Bikin Harga Beras di Daerah Ini Meroket Jadi Rp 900 Ribu per Karung

Sebagai informasi, harga emas dunia sempat menyentuh level terendah dalam empat bulan di posisi US$4.097,99 per ons pada awal pekan. Sentimen pasar mulai berbalik serta meningkatnya minat beli mendorong bangkitnya emas.

Pavilonis memperkirakan tren kenaikan harga emas masih akan berlanjut dalam waktu dekat. “Kita akan melihat kenaikan bertahap dalam beberapa pekan ke depan. Jika situasi Iran bisa mereda, maka peluang untuk kembali masuk ke aset berisiko akan semakin terbuka,” katanya.

Konflik antara AS-Iran yang telah memasuki pekan keempat itu terus meluas di kawasan Timur Tengah hingga berdampak pada ekonomi global. Lonjakan harga energi dan pupuk memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi.

Tekanan inflasi tersebut turut mengubah ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Pelaku pasar kini memperkirakan bank sentral AS berpotensi kembali menaikkan suku bunga yang biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena meningkatkan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil tersebut.

Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, pasar bahkan telah menghapus ekspektasi penurunan suku bunga AS pada 2026. Ini berbeda dengan proyeksi sebelum konflik yang memperkirakan dua kali pemangkasan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut