Rupiah Turun ke 17.130 Usai Proyeksi ADB soal Ekonomi RI 2026 & Potensi Perang Panjang Iran-AS

Tumpukan uang rupiah dengan berbagai nominal
Sumber :
  • istockphoto.com

Jakarta, VoxPop – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

img_title Masuk Bulan Agustus, Polri Pastikan Tak Ada Gangguan Kamtibmas di Pusat Ekonomi Nasional

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 17.122 pada Senin, 13 April 2026. Posisi rupiah itu melemah 10 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.112 pada perdagangan Jumat, 10 April 2026.

Sementara perdagangan di pasar spot pada Selasa, 14 April 2026 hingga pukul 09.02 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.130 per dolar AS. Posisi itu melemah 25 poin atau 0,15 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.105 per dolar AS.

img_title Bukan Iran, Trump Tegaskan Cuma AS yang Pungut Biaya di Selat Hormuz

Ilustrasi mata uang Rupiah.

Photo :
  • Pixabay/IqbalStock

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) memproyeksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai level 5,2 persen pada 2026, lebih tinggi dibandingkan realisasi pertumbuhan pada tahun lalu (5,1 persen) namun lebih rendah dari target pemerintah (5,4 persen). Proyeksi tersebut masih dalam rentang target inflasi Bank Indonesia (BI) sebesar 2,5±1 persen .

img_title Rupiah Balik Melemah ke Rp 18.013 usai Rilis soal Ekspansi PMI Manufaktur dan Deflasi Juli 2026

Meski prospek perekonomian Indonesia cenderung baik, ADB mewanti-wanti sejumlah risiko yang dapat mengganggu. Ketegangan geopolitik global yang belum mereda serta fluktuasi harga komoditas energi, disebut-sebut masih menjadi ancaman bagi stabilitas ekonomi nasional. 

Selain itu, kebijakan moneter di negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat, yang tetap ketat dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer), berpotensi memicu volatilitas aliran modal di pasar keuangan negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia. 

Karenanya, ADB menyarankan agar pemerintah terus mempercepat reformasi struktural guna meningkatkan produktivitas dan daya saing nasional. Selain itu, optimalisasi penerimaan negara dan efisiensi belanja dinilai krusial, untuk menjaga ruang fiskal dalam menghadapi guncangan ekonomi di masa depan. 

Pertumbuhan lapangan kerja formal yang lebih kuat di sektor manufaktur sangat penting, untuk mendukung transformasi struktural yang inklusif. Sementara sektor pertanian masih menyerap porsi besar tenaga kerja, dimana sektor ini tetap ditandai oleh produktivitas yang rendah dan tingkat informalitas yang tinggi.

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.100-Rp 17.150," ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut