IMF Peringatkan Resesi Global di Depan Mata, Negara Berkembang Paling Terpukul!

Ilustrasi resesi ekonomi/ekonomi global
Sumber :
  • Unsplash

Jakarta, VoxPop – Perang di Timur Tengah mulai menunjukkan dampak serius terhadap perekonomian global. Dana Moneter Internasional atau IMF memperingatkan bahwa konflik ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia, memicu inflasi baru, bahkan membuka peluang terjadinya resesi global.

img_title Rupiah Makin Melemah ke Rp 18.104 Meski Pasar Respons Positif Proyeksi IMF & ADB soal Pertumbuhan Ekonomi RI 2026

Dalam laporan terbaru World Economic Outlook, IMF menilai bahwa gangguan pada pasar energi akibat perang telah mengubah arah ekonomi global secara drastis. Kenaikan harga minyak dan ketidakpastian geopolitik menjadi faktor utama yang menekan pertumbuhan di berbagai negara.

Kepala ekonom IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, menegaskan dampak besar konflik ini terhadap ekonomi dunia. “Prospek global tiba-tiba menjadi suram setelah pecahnya perang di Timur Tengah. Perang tersebut menghentikan jalur pertumbuhan yang sebelumnya stabil,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari New York Times, Rabu, 15 April 2026.

img_title Indonesia Tolak Tawaran Pinjaman IMF hingga Rp487 Triliun, Nilai Kondisi Fiskal Masih Kuat

Sebelumnya, ekonomi global dinilai cukup tangguh menghadapi berbagai tekanan, mulai dari pandemi, perang Rusia-Ukraina, hingga lonjakan inflasi. Namun, keputusan Amerika Serikat untuk memulai perang dengan Iran disebut telah menghentikan momentum pemulihan tersebut.

IMF memperkirakan, bahkan dalam skenario terbaik sekalipun, dampak ekonomi tetap tidak bisa dihindari. Pertumbuhan global diprediksi turun menjadi 3,1 persen pada 2026, dari 3,4 persen pada 2025. Angka ini juga lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,3 persen.

img_title Respons Laporan MSCI, Airlangga: Bursa RI Masih Penuhi Karakteristik Pasar Modal Negara Berkembang

Dalam skenario terburuk, dampaknya bisa jauh lebih dalam. IMF memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan pada pasar energi dapat menekan pertumbuhan global hingga hanya 2 persen, sementara inflasi melonjak hingga 6 persen.

Lonjakan harga energi menjadi salah satu dampak paling terasa. Harga minyak dunia telah melampaui US$100 per barel atau setara Rp1.700.000. Sementara itu, harga gas alam melonjak lebih dari 80 persen. Kenaikan harga pupuk juga ikut terjadi, yang berpotensi meningkatkan biaya produksi pangan secara global.

IMF juga memperkirakan harga minyak akan naik 21,4 persen sepanjang tahun ini. Bahkan, harga komoditas energi yang sebelumnya diprediksi turun pada 2026 justru diperkirakan naik sekitar 19 persen.

Kenaikan ini akan merambat ke berbagai sektor. Biaya produksi barang seperti baja dan semen dipastikan meningkat, daya beli masyarakat tergerus, dan bank sentral kemungkinan besar harus menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut