Negara Tetangga RI Ini Ngebut Olah Sawit Jadi BBM, 19 Pabrik Disiapkan untuk Produksi 1,5 Juta Liter per Bulan
- Acko
Jakarta, VoxPop – Malaysia semakin agresif mendorong penggunaan biodiesel berbasis sawit sebagai strategi menekan harga solar sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Pemerintah setempat kini telah memiliki 19 pabrik biodiesel yang mampu memproduksi sekitar 1,5 juta liter per bulan.
Langkah ekspansi ini menjadi sinyal kuat bahwa negara tetangga Indonesia tersebut serius menjadikan biofuel sebagai salah satu tulang punggung energi nasional, terutama di tengah gejolak harga minyak global dan ketidakpastian pasokan energi dunia.
Wakil Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi, mengatakan pengembangan produksi biofuel tersebut telah dipresentasikan kepada Dewan Tindakan Ekonomi Nasional dan melibatkan kolaborasi antara lembaga pemerintah serta perusahaan perkebunan swasta.
Menurut Ahmad Zahid, 19 fasilitas tersebut saat ini memproduksi campuran biodiesel mulai dari B15 hingga B50. Pemerintah juga berencana mengoptimalkan produksi dengan memanfaatkan sludge atau lumpur sisa hasil produksi minyak sawit mentah (CPO).
“Sekitar 35 persen dari sludge ini dapat dimanfaatkan sepenuhnya untuk memproduksi biofuel serta Jet A1," ujarnya, sebagaimana dikutip dari The Star, Senin, 20 April 2026. “Inisiatif ini sudah dimulai, dan MTEN pada prinsipnya telah menerima proposal tersebut,” sambungnya.
Pemanfaatan limbah sawit ini dinilai menjadi langkah strategis karena tidak hanya meningkatkan efisiensi industri, tetapi juga membuka peluang baru dalam pengembangan bahan bakar penerbangan berbasis nabati.
Jet A1 sendiri merupakan bahan bakar utama untuk pesawat komersial, sehingga potensi pengembangannya dapat memperluas pasar biodiesel Malaysia ke sektor aviasi.
Ahmad Zahid menambahkan pemerintah akan melakukan koordinasi dengan berbagai lembaga terkait dan perusahaan agar biaya produksi tetap rendah melalui sinergi antar 19 pabrik tersebut.
“Dengan produksi massal, kami berharap biaya keseluruhan akan menurun dan harga menjadi lebih kompetitif,” ujarnya.
Menurutnya, skala produksi yang lebih besar akan membantu menekan ongkos operasional sekaligus membuat harga biodiesel lebih bersaing dengan bahan bakar fosil konvensional. Ia juga menegaskan bahwa kelayakan biodiesel bukan lagi sekadar teori.
Berbagai uji coba telah dilakukan, termasuk proyek percontohan bersama perusahaan energi nasional PETRONAS dan sejumlah produsen kendaraan. “Dalam pandangan saya, seperti yang telah saya nyatakan sebelumnya, tidak ada keraguan mengenai kemampuan biofuel ini. Ini akan membantu menstabilkan dan mengurangi harga diesel di negara ini,” katanya.
