Harga Kebutuhan Pokok Bisa Naik Imbas Perang, Begini Penjelasannya

Ilustrasi minimarket.
Sumber :
  • Pixabay

Jakarta, VoxPop Perang yang melibatkan Iran, Israel dan Amerika Serikat, disebut-sebut mulai memberikan dampak nyata terhadap isi isi dompet dan gairah belanja masyarakat. Bagaimana tidak, mulai dari harga produk makanan hingga barang kebutuhan sehari-hari, dilaporkan naik. 

img_title Turki Mau Bangun Jalur Baru Kurangi Ketergantungan Terhadap Selat Hormuz, Pakai Kereta Api

Kenaikan harga energi akibat konflik tersebut memicu efek berantai pada rantai pasok global. Biaya produksi meningkat karena bahan baku seperti plastik dan bahan kimia menjadi lebih mahal. 

Dampaknya, harga barang konsumsi pun ikut terdorong naik, bahkan di negara yang jauh dari lokasi konflik. Perang yang dimulai pada 28 Februari ini memicu salah satu gangguan pasokan minyak dan gas terburuk dalam sejarah modern. 

img_title Harga Minyak Dunia Turun usai Melonjak Imbas Konflik AS-Iran, Pasar Mulai Hitung Ulang Risiko Timur Tengah

Terganggunya akses Selat Hormuz hingga kerusakan infrastruktur seperti kilang minyak di Timur Tengah yang diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih sepenuhnya, menjadi biang kerok. 

Sebagian besar plastik diproduksi dari minyak atau gas alam yang diolah menjadi bahan kimia, lalu diubah menjadi polimer untuk berbagai kebutuhan. Mulai dari kemasan makanan hingga tekstil seperti polyester.

img_title Kemenhub Kawal Kepulangan ABK RI yang Kapalnya Kena Serangan Misil di Selat Hormuz

Di Eropa, harga plastik PET yang digunakan untuk botol minuman dan kemasan makanan tercatat naik 15,4 persen pada pertengahan Maret dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara di Amerika Utara, harga polyethylene melonjak sekitar 29 persen secara tahunan.

“Plastik adalah inti dari semua ini,” kata Steve Zurek, wakil presiden tim analitik lanjutan NielsenIQ, sebagaimana dikutip dari Reuters, Selasa, 5 Mei 2026. “Terutama dalam kategori rumah tangga dan perawatan pribadi, karena banyak menggunakan botol dan tabung plastik.”

Kenaikan harga kemasan ini sangat berpengaruh karena biaya packaging biasanya menyumbang sekitar 5 persen hingga 15 persen dari total biaya produksi suatu produk. Data dari NielsenIQ menunjukkan bahwa rata-rata harga bahan makanan di Amerika Serikat naik 2,9 persen dalam empat minggu sejak konflik dimulai hingga 28 Maret. 

Para ekonom memperkirakan bahwa angka inflasi tersebut baru mencerminkan dampak awal dari lonjakan harga minyak. Artinya, tekanan harga masih berpotensi meningkat dalam beberapa bulan ke depan.

Dampaknya, diperkirakan akan semakin terasa di Asia, yang menjadi pusat industri petrokimia dunia. Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura, India, dan China bersiap menghadapi kenaikan inflasi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut