Pelemahan Mata Uang terhadap Dolar AS Hampir di Semua Negara, Ekonomi Ungkap Penyebabnya

Mata uang Dolar AS
Sumber :
  • VoxPop.co.id/M Ali Wafa

Jakarta, VoxPop – Pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Dr. Surya Vandiantara menilai, pelemahan nilai tukar mata uang domestik terhadap dollar Amerika Serikat (AS), tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Karena sebagian besar negara Asia juga turut mengalami tekanan nilai mata uang domestik. 

img_title Rupiah Berpotensi Sentuh Rp18.300 per Dolar AS Pekan Depan, Pengamat Ungkap Penyebabnya

Menurutnya, salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi tersebut adalah keberhasilan AS dalam memenangkan perang opini atau sentimen atas konflik yang terjadi dengan Iran.

"Konflik yang terjadi antara AS dan Iran menyebabkan para investor dan pelaku bisnis memilih dolar AS sebagai instrumen investasi dan alat tukar dibandingkan mata uang negara lainnya," kata Surya dalam keterangannya, Selasa, 12 Mei 2026.

img_title Orang AS Ketagihan Tempe, Produk Pangan RI Laris hingga Rp 150 Miliar di New York

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS

Photo :
  • VoxPop.co.id/M Ali Wafa

Menurut, fenomena ini mampu meningkatkan permintaan terhadap dolar AS secara signifikan. "Tingginya tingkat permintaan terhadap dolar AS inilah yang kemudian menyebabkan nilainya melambung tinggi," ujarnya. 

img_title PGS BI Destry Beberkan Strategi Hadapi Era Suku Bunga Tinggi di Dunia

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), pelemahan Rupiah bila dibanding dengan negara lain sebenarnya masih relatif lebih baik. Data menunjukkan pelemahan Rupiah sekitar 3,65 persen sejak awal konflik AS-Iran. 

Angka ini lebih rendah dibandingkan peso Filipina yang turun 6,58 persen, dan baht Thailand 5,04 persen. Rupee India melemah 4,32 persen dan peso Chile 4,24 persen. Sedangkan, Won Korea mencatat pelemahan 2,29 persen.

Surya melihat, pelemahan nilai mata uang rupiah terhadap dollar AS itu terjadi dikarenakan pengaruh faktor eksternal, bukan karena faktor internal.

Menurutnya, hal itu dipengaruhi oleh para investor dan pelaku bisnis dalam negeri, yang mengikuti tren dunia untuk menggunakan dollar AS sebagai instrumen investasi dan alat tukar. Dimana pada akhirnya hal itu menekan jumlah permintaan Rupiah dan meningkatkan permintaan dollar AS. 

"Di tengah pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang cenderung stabil dan positif, serta necara perdagangan terhadap Amerika Serikat yang tercatat surplus, semakin mempertegas bahwa pelemahan nilai mata uang rupiah bukanlah dikarenakan faktor internal, melaikan faktor eksternal," kata Surya.

Terkait tujuh langkah BI meredam pelemahan Rupiah, Surya menyebut hal itu sebagai langkah strategis untuk meningkatkan permintaan terhadap mata uang domestik. Apabila permintaan terhadap Rupiah meningkat, maka Rupiah akan mampu bersaing dengan tingginya angka permintaan dollar AS. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut