Ambisi Kevin Warsh sebagai Bos Baru The Fed dan Ujian Berat Utang Pemerintah AS
- CNN Business
Di sisi lain, Warsh sejak lama mengkritik kebijakan ekspansi neraca The Fed, terutama program pembelian aset besar-besaran atau quantitative easing (QE). Ia menilai kebijakan tersebut tidak memiliki kerangka yang jelas terkait kapan harus dimulai, skala pembelian, maupun strategi keluar.
Saat ini, The Fed masih memegang aset sekitar US$6,7 triliun setelah sempat mencapai hampir US$9 triliun pada 2022. Penurunan tersebut berlangsung bertahap seiring upaya pengetatan kebijakan moneter.
Namun, belum ada kesepakatan luas mengenai efektivitas QE dalam menopang ekonomi. Ketika suku bunga mendekati nol dalam situasi krisis, The Fed biasanya mengandalkan neraca besarnya untuk mendorong pertumbuhan melalui penurunan suku bunga jangka panjang.
Ekonom Duke University, Ellen Meade, menilai kebijakan neraca The Fed masih membutuhkan kerangka yang lebih jelas. “Mereka sudah terlambat untuk membahas bagaimana menggunakan neraca dan dalam kondisi apa,” ujarnya. Ia memperkirakan proses penyusunan kebijakan tersebut bisa memakan waktu hingga 12 bulan.
Tantangan lain datang dari koordinasi antara The Fed dan Departemen Keuangan AS. Kebijakan penerbitan utang pemerintah dapat memperkuat atau justru melemahkan dampak kebijakan neraca bank sentral.
Dalam analisis terpisah, ekonom Bank Policy Institute, Bill Nelson, menyebut pengurangan neraca The Fed hingga US$2 triliun bisa berdampak sangat bervariasi pada suku bunga kebijakan, mulai dari penurunan hingga kenaikan hampir 1 poin persentase, tergantung desain kebijakan dan respons fiskal pemerintah.
Namun, tidak semua pihak setuju bahwa neraca besar The Fed adalah masalah utama. Gubernur The Fed Christopher Waller bahkan menyebut rencana pemangkasan agresif bisa tidak efisien jika membuat bank kekurangan cadangan likuiditas.
Sementara itu, data Congressional Budget Office (CBO) menunjukkan defisit federal AS diproyeksikan mencapai 5,8 persen dari PDB pada 2026, jauh di atas rata-rata 50 tahun sebesar 3,8 persen. Beban bunga utang yang terus meningkat menjadi faktor utama tekanan fiskal tersebut.
Kondisi ini membuat rencana Warsh berada di persimpangan sulit, antara menjaga disiplin kebijakan moneter atau menghadapi realitas fiskal AS yang semakin bergantung pada pembiayaan utang besar-besaran.
