Investor Borong Mata Uang Asia, Yuan China Melesat saat Dolar Loyo

Uang dolar Amerika US dollar dan Yuan China Tiongkok
Sumber :
  • REUTERS/Nicky Loh

Jakarta, VoxPop – Mata uang yuan China menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026, usai dolar AS melemah. Ini menyusul optimisme terkait perpanjangan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS). 

img_title 3 Hal Ini Jadi Sorotan China dalam Tantangan Tata Kelola Iklim Global

Sentimen positif dari Timur Tengah membuat minat investor terhadap aset berisiko di kawasan Asia meningkat. Kondisi tersebut turut mendorong penguatan sejumlah mata uang Asia, termasuk yuan.

Berdasarkan laporan pasar, Amerika Serikat dan Iran disebut telah mencapai kesepakatan awal untuk memperpanjang gencatan senjata sekaligus mencabut pembatasan pelayaran di Selat Hormuz. Namun, kesepakatan tersebut masih menunggu persetujuan Presiden AS Donald Trump.

img_title Ketum PSSI: China Ikut Berebut Jadi Tuan Rumah FIFA ASEAN Cup

Di pasar domestik China, yuan onshore tercatat menguat 0,07 persen ke level 6,7705 per dolar AS. Mata uang tersebut bergerak dalam rentang perdagangan 6,7703 hingga 6,7750 sepanjang sesi.

Sementara itu, yuan offshore yang diperdagangkan di pasar internasional bahkan menyentuh level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir, yakni 6,7675 per dolar AS. Sebelum pasar dibuka, Bank Sentral China atau People’s Bank of China menetapkan kurs tengah yuan di level 6,8176 per dolar AS. Angka tersebut menjadi posisi terkuat sejak 14 Februari 2023.

img_title Rupiah Menguat ke Rp 18.055 Meski Ekonom Proyeksi Ekonomi RI di Kuartal II-2026 Anjlok

Meski demikian, nilai tersebut masih 491 pips lebih lemah dibanding estimasi Reuters. Dalam aturan perdagangan harian China, yuan spot diperbolehkan bergerak maksimal 2 persen di atas atau di bawah kurs tengah yang telah ditetapkan bank sentral.

Analis menilai pergerakan yuan saat ini masih sangat dipengaruhi arah dolar AS. Ketika dolar melemah, mata uang China cenderung ikut menguat.

Di sisi lain, indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia juga terus melemah dan diperkirakan menutup pekan ini di zona negatif. Pelaku pasar kini mulai menyoroti data Purchasing Managers’ Index (PMI) China untuk melihat apakah tren perlambatan ekonomi Negeri Tirai Bambu masih berlanjut atau mulai membaik.

Analis dari Nanhua Futures mengatakan, data PMI menjadi faktor penting berikutnya yang perlu diperhatikan investor global. “Data ini untuk menilai apakah tren pelemahan ekonomi sebelumnya masih berlanjut,” tulis analis Nanhua Futures, sebagaimana dikutip dari Reuters, Jumat, 29 Mei 2026.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut