Rupiah Melemah Saat Ancaman Tarif Baru AS Menguat, Ekspor Indonesia Disebut Terancam Terpukul
- VoxPop/Davro
Kenaikan tarif akan membuat harga produk Indonesia menjadi lebih mahal di pasar Amerika Serikat sehingga daya saingnya berpotensi menurun.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi permintaan terhadap berbagai produk ekspor unggulan Indonesia.
“Tidak hanya mengurangi daya saing produk di pasar AS, kebijakan tersebut juga berisiko memengaruhi utilisasi pabrik, investasi, hingga penyerapan tenaga kerja di sektor tersebut,” kata Ibrahim.
Apabila permintaan ekspor melemah, industri manufaktur nasional berpotensi menghadapi tekanan produksi yang pada akhirnya dapat berdampak terhadap aktivitas investasi dan penciptaan lapangan kerja.
Tarif Tambahan Berpotensi Berlaku Juli 2026
Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah muncul informasi bahwa tarif tambahan tersebut direncanakan berlaku secara bertahap mulai 24 Juli 2026.
Kebijakan itu disebut mengacu pada Pasal 301 Trade Act 1974 yang digunakan Amerika Serikat dalam berbagai tindakan perdagangan internasional.
Sebelumnya, Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat atau USTR telah menetapkan forced labor tariff sebesar 10 persen terhadap Indonesia dan sejumlah negara lainnya.
Pemerintah Indonesia memperkirakan beban tarif tersebut berpotensi meningkat hingga 18 persen setelah proses investigasi terkait dugaan kapasitas produksi berlebih atau excess capacity selesai dilakukan.
Jika skenario tersebut terjadi, maka tekanan terhadap ekspor nasional diperkirakan akan semakin besar.
AS Masih Jadi Pasar Penting Indonesia
Ancaman tarif baru menjadi perhatian serius karena Amerika Serikat merupakan salah satu tujuan ekspor utama Indonesia.
Data perdagangan menunjukkan nilai ekspor nonmigas Indonesia ke AS sepanjang Januari hingga Juni 2025 mencapai sekitar 14,79 miliar dolar AS.
Angka tersebut setara dengan sekitar 11,52 persen dari total ekspor nonmigas nasional.
Berbagai produk manufaktur mendominasi ekspor Indonesia ke pasar Amerika Serikat.
Komoditas tersebut meliputi mesin dan peralatan listrik, alas kaki, pakaian jadi, hingga berbagai produk aksesori industri yang selama ini menjadi sumber devisa penting bagi perekonomian nasional.
Sentimen Positif dari Timur Tengah Belum Mampu Menahan Tekanan
Di tengah kekhawatiran perang dagang, pasar global sebenarnya memperoleh sentimen positif dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Harapan terhadap kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran mendorong harga minyak mentah Brent turun ke level terendah dalam tiga bulan terakhir.
