Krisis Selat Hormuz Dinilai Bisa Jadi Titik Balik Dunia, Era Dominasi Minyak Disebut Mulai Memudar
- Reuters
Beberapa sektor industri bahkan terpaksa menghentikan sebagian kapasitas produksinya akibat keterbatasan pasokan energi.
Namun, langkah tersebut dinilai hanya bersifat sementara.
Perubahan yang lebih penting justru diperkirakan terjadi pada kebijakan jangka panjang, di mana negara-negara Asia mulai menempatkan ketahanan energi sebagai prioritas utama, bahkan di atas pertimbangan harga.
India dan Pakistan disebut akan memperbesar investasi pada cadangan minyak domestik mengikuti langkah negara-negara anggota IEA dan China.
Selain itu, sejumlah negara pengimpor energi seperti India, Pakistan, dan Jepang juga diperkirakan mempercepat investasi pada energi terbarukan, tenaga nuklir, hingga batu bara guna mengurangi ketergantungan terhadap minyak dan gas dari Timur Tengah.
Eropa Percepat Transisi Energi
Di Eropa, dampak krisis Hormuz memang tidak sebesar Asia. Namun, kawasan tersebut baru saja mengalami dua guncangan besar pasokan energi dalam kurun waktu kurang dari lima tahun.
Setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 memaksa negara-negara Eropa mencari sumber energi baru, kini krisis Hormuz kembali memperkuat dorongan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Permintaan gas di Eropa tercatat turun lebih dari 20 persen sepanjang 2021 hingga 2023 dan hingga kini baru pulih secara terbatas.
Dalam periode yang sama, penggunaan energi terbarukan terus meningkat sebagai bagian dari bauran energi di kawasan tersebut.
Bousso menilai krisis terbaru berpotensi mempercepat tren tersebut.
Investasi Energi Bergeser
Perubahan strategi energi juga tercermin dari arah investasi global.
Berdasarkan laporan World Energy Investment dari IEA, investasi sektor energi diperkirakan mencapai 3,4 triliun dolar AS pada 2026 atau naik sekitar 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebagian besar investasi baru mengalir ke pengembangan energi alternatif serta peningkatan ketahanan sistem energi.
Data IEA juga menunjukkan penjualan kendaraan listrik pada kuartal pertama 2026 meningkat 30 persen di Eropa, 75 persen di Amerika Latin, dan 80 persen di kawasan Asia Pasifik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, ekspor panel surya China melonjak 120 persen ke Afrika dan 150 persen ke Asia Tenggara.
Di Afrika, sebanyak 15 negara mencatat impor panel surya senilai lebih dari 400 juta dolar AS hanya pada kuartal pertama 2026, dibandingkan total 650 juta dolar AS sepanjang 2025.
