Krisis Selat Hormuz Dinilai Bisa Jadi Titik Balik Dunia, Era Dominasi Minyak Disebut Mulai Memudar

Kapal-kapal tertahan di Selat Hormuz
Sumber :
  • Reuters

Jakarta, VoxPop – Krisis penutupan Selat Hormuz selama lebih dari 100 hari dinilai menjadi salah satu peristiwa yang berpotensi mengubah arah pasar energi global. Meski jalur pelayaran strategis itu kini telah kembali dibuka dan distribusi minyak serta gas kembali berjalan normal, dampak jangka panjangnya diperkirakan akan memengaruhi kebijakan energi banyak negara.

img_title Dukung Transformasi Bisnis Berkelanjutan, Pertamina Perkuat Kapabilitas dan Budaya Keberlanjutan

Pandangan tersebut disampaikan kolumnis Reuters, Ron Bousso, yang menilai krisis di Timur Tengah telah menjadi ujian besar bagi sistem energi modern yang selama ini bergantung pada rantai pasok global.

Selama konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026, penutupan Selat Hormuz sempat memicu kekhawatiran besar. Jalur tersebut selama ini menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

img_title Harga Minyak Dunia Turun usai Melonjak Imbas Konflik AS-Iran, Pasar Mulai Hitung Ulang Risiko Timur Tengah

Meski pasar energi mampu beradaptasi melalui perubahan arus pasokan dan pola permintaan, Bousso menilai kondisi tersebut hanya bersifat sementara.

Menurutnya, cadangan energi global terus terkuras selama penutupan berlangsung dan dunia nyaris mencapai titik kritis sebelum akhirnya Selat Hormuz kembali dibuka.

img_title Kemenhub Kawal Kepulangan ABK RI yang Kapalnya Kena Serangan Misil di Selat Hormuz

Disebut Mirip Embargo Minyak 1973

Bousso membandingkan krisis Hormuz dengan embargo minyak Arab pada 1973 yang menjadi salah satu titik balik dalam sejarah industri energi dunia.

Saat itu, negara-negara Arab anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) menghentikan ekspor minyak ke Amerika Serikat dan negara-negara Barat yang mendukung Israel dalam Perang Yom Kippur.

Embargo tersebut membuat harga minyak melonjak hingga empat kali lipat dalam waktu singkat dan memicu lonjakan inflasi global.

Dampaknya tidak membuat dunia meninggalkan bahan bakar fosil, tetapi mendorong banyak negara menggunakan energi secara lebih efisien, mengembangkan sumber energi domestik, serta membentuk kebijakan ketahanan energi yang lebih kuat.

Salah satu hasilnya adalah pembentukan Badan Energi Internasional (IEA) pada 1974 untuk mengoordinasikan respons terhadap gangguan pasokan energi global.

Asia Mulai Ubah Strategi Energi

Menurut Bousso, krisis Hormuz kali ini juga mulai mendorong perubahan serupa, terutama di kawasan Asia yang sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah.

Selama penutupan Selat Hormuz, sejumlah negara menerapkan langkah-langkah darurat seperti pengurangan hari kerja menjadi empat hari, kebijakan bekerja dari rumah, hingga pembatasan perjalanan udara dan kendaraan.

Beberapa sektor industri bahkan terpaksa menghentikan sebagian kapasitas produksinya akibat keterbatasan pasokan energi.

Namun, langkah tersebut dinilai hanya bersifat sementara.

Perubahan yang lebih penting justru diperkirakan terjadi pada kebijakan jangka panjang, di mana negara-negara Asia mulai menempatkan ketahanan energi sebagai prioritas utama, bahkan di atas pertimbangan harga.

India dan Pakistan disebut akan memperbesar investasi pada cadangan minyak domestik mengikuti langkah negara-negara anggota IEA dan China.

Selain itu, sejumlah negara pengimpor energi seperti India, Pakistan, dan Jepang juga diperkirakan mempercepat investasi pada energi terbarukan, tenaga nuklir, hingga batu bara guna mengurangi ketergantungan terhadap minyak dan gas dari Timur Tengah.

Eropa Percepat Transisi Energi

Di Eropa, dampak krisis Hormuz memang tidak sebesar Asia. Namun, kawasan tersebut baru saja mengalami dua guncangan besar pasokan energi dalam kurun waktu kurang dari lima tahun.

Setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 memaksa negara-negara Eropa mencari sumber energi baru, kini krisis Hormuz kembali memperkuat dorongan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Permintaan gas di Eropa tercatat turun lebih dari 20 persen sepanjang 2021 hingga 2023 dan hingga kini baru pulih secara terbatas.

Dalam periode yang sama, penggunaan energi terbarukan terus meningkat sebagai bagian dari bauran energi di kawasan tersebut.

Bousso menilai krisis terbaru berpotensi mempercepat tren tersebut.

Investasi Energi Bergeser

Perubahan strategi energi juga tercermin dari arah investasi global.

Berdasarkan laporan World Energy Investment dari IEA, investasi sektor energi diperkirakan mencapai 3,4 triliun dolar AS pada 2026 atau naik sekitar 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sebagian besar investasi baru mengalir ke pengembangan energi alternatif serta peningkatan ketahanan sistem energi.

Data IEA juga menunjukkan penjualan kendaraan listrik pada kuartal pertama 2026 meningkat 30 persen di Eropa, 75 persen di Amerika Latin, dan 80 persen di kawasan Asia Pasifik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, ekspor panel surya China melonjak 120 persen ke Afrika dan 150 persen ke Asia Tenggara.

Di Afrika, sebanyak 15 negara mencatat impor panel surya senilai lebih dari 400 juta dolar AS hanya pada kuartal pertama 2026, dibandingkan total 650 juta dolar AS sepanjang 2025.

Belanja untuk peningkatan efisiensi energi global kini mencapai sekitar 350 miliar dolar AS per tahun. IEA juga memperkirakan sekitar 20 negara telah mengumumkan kebijakan efisiensi energi baru sebagai respons langsung terhadap krisis Selat Hormuz.

Meski demikian, Bousso menegaskan minyak dan gas belum akan tergeser dari pusat sistem energi dunia dalam waktu dekat. Keduanya masih menjadi komponen utama sektor transportasi, pertanian, konstruksi, hingga pembangkit listrik.

Namun, menurutnya, arah perubahan mulai terlihat. Jika selama lebih dari satu abad konsumsi bahan bakar fosil terus meningkat, maka krisis Selat Hormuz berpotensi menjadi titik balik yang mengawali perlambatan era dominasi minyak dalam sistem energi global. (REU)

Teluk Persia

Turki Mau Bangun Jalur Baru Kurangi Ketergantungan Terhadap Selat Hormuz, Pakai Kereta Api

Turki targetkan penyelesaian proyek koridor transportasi baru yang menghubungkan Teluk Persia dengan Eropa via Irak dalam waktu 3 tahun sebagai alternatif selat hormuz.

img_title
VoxPop.co.id
31 Juli 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut