Dua Segmen Bisnis Ini Jaga Kinerja Astra di Semester I-2026
- Dokumentasi Astra.
Sementara itu, Bisnis Jasa Keuangan PT Astra International Tbk juga melanjutkan pertumbuhan dengan laba bersih Rp4,6 triliun atau meningkat 6 persen. Nilai pembiayaan baru dari divisi pembiayaan konsumen tumbuh 10 persen menjadi Rp61,8 triliun. Pertumbuhan tersebut didorong oleh pembiayaan otomotif dan multi-cycle.
Divisi pembiayaan yang berfokus pada sepeda motor memberikan kontribusi laba bersih Rp2,4 triliun, meningkat 4 persen dibandingkan tahun lalu. Kontribusi laba bersih perusahaan pembiayaan mobil tumbuh 6 persen menjadi Rp1,2 triliun. Adapun nilai pembiayaan baru untuk alat berat naik 1 persen menjadi Rp8,1 triliun, dengan kontribusi laba bersih meningkat 11 persen menjadi Rp130 miliar.
Perusahaan asuransi Grup Astra juga membukukan pertumbuhan kontribusi laba bersih sebesar 7 persen menjadi Rp906 miliar. Kenaikan ditopang oleh pertumbuhan pendapatan operasional dan investasi.
Kemudian, kinerja segmen Lain-lain PT Astra International Tbk yang mencerminkan Wider Businesses Grup juga menunjukkan pertumbuhan. Tanpa memperhitungkan non-recurring items, laba bersih segmen ini meningkat 31 persen menjadi Rp1,6 triliun.
Pertumbuhan terutama ditopang bisnis agribisnis berkat kenaikan harga dan volume penjualan minyak kelapa sawit. Bisnis properti turut mencatat peningkatan setelah mendapat kontribusi dari industrial warehouse platform yang baru diakuisisi. Di sisi lain, bisnis Solusi Pertambangan dan Alat Berat membukukan laba bersih Rp2,7 triliun sebelum non-recurring items, turun 46 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kinerja sektor ini terdampak oleh minimnya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe serta penurunan kuota produksi batu bara nasional melalui alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Tambang Emas Martabe sempat menghentikan kegiatan operasional pada awal 2026, tetapi telah kembali beroperasi sejak kuartal II 2026.
Lebih lanjut Astra International dan PT United Tractors Tbk (UT) menyiapkan dana hingga Rp10 triliun untuk program pembelian kembali saham atau share buyback.
Astra mengalokasikan dana maksimal Rp8 triliun untuk program buyback selama 12 bulan. Program tersebut telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 17 Juli 2026. United Tractors turut mengumumkan program buyback saham dengan nilai hingga Rp2 triliun untuk jangka waktu tiga bulan.
