Dua Segmen Bisnis Ini Jaga Kinerja Astra di Semester I-2026
- Dokumentasi Astra.
Jakarta, VoxPop – PT Astra International Tbk (Astra) menjaga pertumbuhan dua bisnis utamanya sepanjang semester I-2026. Laba bersih bisnis Otomotif meningkat 9 persen menjadi Rp5,9 triliun, sedangkan laba bisnis Jasa Keuangan tumbuh 6 persen menjadi Rp4,6 triliun.
Presiden Direktur PT Astra International Tbk Rudy mengatakan, pertumbuhan bisnis Otomotif dan Jasa Keuangan menunjukkan daya tahan Grup Astra menghadapi kondisi bisnis yang dinamis. Kinerja positif kedua sektor tersebut menjadi penopang Perseroan di tengah tekanan pada bisnis Solusi Pertambangan dan Alat Berat.
“Pada semester pertama 2026, Grup mencatat peningkatan kontribusi dari bisnis Otomotif dan Jasa Keuangan. Namun, penurunan kontribusi dari bisnis Solusi Pertambangan & Alat Berat mengakibatkan penurunan laba bersih Grup secara keseluruhan,” ujar Rudy dalam keterangan tertulisnya dikutip Selasa, 4 Agustus 2026.
Secara konsolidasian, Astra International membukukan pendapatan bersih Rp157,9 triliun pada semester I 2026. Perolehan itu turun 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp162,9 triliun.
Laba bersih tanpa memperhitungkan non-recurring items mencapai Rp14,9 triliun, turun 7 persen dari Rp16 triliun. Setelah memperhitungkan pos nonberulang sebesar Rp2,4 triliun, laba bersih Grup Astra tercatat Rp12,5 triliun.
Pos nonberulang tersebut terutama terdiri atas penyesuaian nilai wajar investasi ekuitas dan penurunan nilai atau impairment. Laporan keuangan untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2026 tersebut belum diaudit dan telah disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.
Pertumbuhan bisnis Otomotif Astra International ditopang kenaikan penjualan mobil baru dan kontribusi yang kuat dari divisi Komponen. Penjualan mobil nasional sepanjang semester I 2026 tumbuh 16 persen menjadi 437.000 unit. Sementara itu, penjualan mobil Grup Astra meningkat 10 persen.
Grup Astra mempertahankan pangsa pasar mobil sebesar 51 persen. Toyota dan Daihatsu juga tetap berada di posisi pertama dan kedua sebagai merek mobil terlaris di Indonesia. Di pasar kendaraan roda dua, penjualan sepeda motor nasional tumbuh 1 persen menjadi 3,1 juta unit. Penjualan sepeda motor Honda juga meningkat 1 persen dengan pangsa pasar mencapai 77 persen.
Kontribusi laba bersih divisi Komponen PT Astra International Tbk melonjak 23 persen menjadi Rp921 miliar. Pertumbuhan itu didukung peningkatan kontribusi dari seluruh segmen. Perkembangan positif turut terlihat pada divisi Mobilitas. Penjualan mobil bekas Grup Astra meningkat 4 persen menjadi 15.700 unit, sedangkan jumlah kendaraan dalam kontrak bertambah 13 persen menjadi 29.200 unit.
Sementara itu, Bisnis Jasa Keuangan PT Astra International Tbk juga melanjutkan pertumbuhan dengan laba bersih Rp4,6 triliun atau meningkat 6 persen. Nilai pembiayaan baru dari divisi pembiayaan konsumen tumbuh 10 persen menjadi Rp61,8 triliun. Pertumbuhan tersebut didorong oleh pembiayaan otomotif dan multi-cycle.
Divisi pembiayaan yang berfokus pada sepeda motor memberikan kontribusi laba bersih Rp2,4 triliun, meningkat 4 persen dibandingkan tahun lalu. Kontribusi laba bersih perusahaan pembiayaan mobil tumbuh 6 persen menjadi Rp1,2 triliun. Adapun nilai pembiayaan baru untuk alat berat naik 1 persen menjadi Rp8,1 triliun, dengan kontribusi laba bersih meningkat 11 persen menjadi Rp130 miliar.
Perusahaan asuransi Grup Astra juga membukukan pertumbuhan kontribusi laba bersih sebesar 7 persen menjadi Rp906 miliar. Kenaikan ditopang oleh pertumbuhan pendapatan operasional dan investasi.
Kemudian, kinerja segmen Lain-lain PT Astra International Tbk yang mencerminkan Wider Businesses Grup juga menunjukkan pertumbuhan. Tanpa memperhitungkan non-recurring items, laba bersih segmen ini meningkat 31 persen menjadi Rp1,6 triliun.
Pertumbuhan terutama ditopang bisnis agribisnis berkat kenaikan harga dan volume penjualan minyak kelapa sawit. Bisnis properti turut mencatat peningkatan setelah mendapat kontribusi dari industrial warehouse platform yang baru diakuisisi. Di sisi lain, bisnis Solusi Pertambangan dan Alat Berat membukukan laba bersih Rp2,7 triliun sebelum non-recurring items, turun 46 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kinerja sektor ini terdampak oleh minimnya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe serta penurunan kuota produksi batu bara nasional melalui alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Tambang Emas Martabe sempat menghentikan kegiatan operasional pada awal 2026, tetapi telah kembali beroperasi sejak kuartal II 2026.
Lebih lanjut Astra International dan PT United Tractors Tbk (UT) menyiapkan dana hingga Rp10 triliun untuk program pembelian kembali saham atau share buyback.
Astra mengalokasikan dana maksimal Rp8 triliun untuk program buyback selama 12 bulan. Program tersebut telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 17 Juli 2026. United Tractors turut mengumumkan program buyback saham dengan nilai hingga Rp2 triliun untuk jangka waktu tiga bulan.
“Astra telah mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp8 triliun untuk 12 bulan ke depan, yang telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 17 Juli 2026. Selain itu, UT juga mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp2 triliun untuk tiga bulan ke depan,” ujar Rudy.
Sebelumnya, Astra dan United Tractors telah menyelesaikan program pembelian kembali saham dengan total nilai Rp7,4 triliun sejak November 2025 hingga akhir Juni 2026. Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi alokasi modal PT Astra International Tbk untuk meningkatkan imbal hasil jangka panjang bagi pemegang saham.
Ke depannya Astra mulai menjalankan Strategy Roadmap baru yang diumumkan pada Mei 2026. Strategi ini mengarahkan Grup Astra untuk fokus pada tiga bisnis inti atau Core Businesses. Ketiganya adalah Otomotif, Jasa Keuangan, serta Solusi Pertambangan dan Alat Berat.
Peta jalan tersebut dibangun di atas empat pilar, yakni Focus, Clarity, Discipline, dan Commitment. Astra juga memperjelas pengelolaan Wider Businesses dengan memprioritaskan bisnis yang memiliki sinergi dengan ekosistem dan kapabilitas Grup.
Strategi baru tersebut turut menekankan disiplin alokasi modal dan investasi dengan mempertimbangkan imbal hasil bagi pemegang saham.
“Di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut, kami tetap fokus untuk menjalankan strategi korporasi kami yang baru. Kami yakin terhadap keunggulan operasional, resiliensi dan kekuatan neraca keuangan Astra, yang didukung oleh alokasi modal yang disiplin dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis,” kata Rudy.
Astra International juga mencatat nilai aset bersih per saham sebesar Rp5.763 pada 30 Juni 2026, meningkat 1 persen. Ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 1 persen menjadi Rp230,1 triliun.
