Wayang Listrik, Memadukan Wayang dan Teknologi
VoxPop.co.id – Apa jadinya jika pertunjukan wayang dibawakan dengan tidak biasa. Bukan dengan wayang kulit, wayang golek, atau wayang orang, melainkan dengan wayang listrik? Ya, seorang seniman asal Desa Bona, Bali, I Made Sidia menyuguhkan inovasi baru dari kesenian wayang yang begitu atraktif lantaran memadukan perwayangan dengan teknologi, namun tetap mempertahankan nilai filosofis dari wayang itu sendiri.
Bertempat di Museum Nasional pada November lalu, Made membawakan cerita epic Ramayana dalam pagelaran Wayang for Student yang dihelat oleh PT Bank Central Asia Tbk (BCA).
“Cerita Ramayana ini abadi. Di dalamnya terkandung banyak pesan yang berbeda dari cerita cinta kebanyakan," kata Made di depan para pelajar.
Terpenting, kata Made lagi, melalui cerita ini dan wayang yang disaksikan, kita bisa lebih dapat merasakan ini mewakili realita, bahwa kebenaran harus selalu mampu unggul dibandingkan kejahatan. Agar kebenaran tak hancur dibutuhkan perjuangan keras, ujarnya.
Jika pertunjukan wayang tradisi memakai blencong, atau lampu kuno yang dinyalakan dengan minyak kelapa untuk memproyeksikan wayang ke layar, maka karya kontemporer Made ini menggunakan proyektor yang dioperasikan oleh laptop. Pemakaian laptop memberikan gambar dan visual effect yang lebih jelas sebagai latar dalam pertunjukkan, menampilkan gambar-gambar yang berbeda, dari hutan, gunung, candi, dan lainnya.
Kreatifas Made tidak hanya sampai disitu. Alih-alih menggunakan bahan wayang yang mahal, ia memilih memanfaatkan kaca mika, kardus, busa tebal, dan sterofoam sebagai bahan wayangnya.
Untuk kardus, busa tebal, dan sterofoam ia membentuknya menjadi wayang. Sedang untuk kaca mika, ia melukiskan sosok wayang pada kaca tersebut. Dalam pertunjukannya wayang-wayang tinggal dimainkan di belakang layar dalam cahaya pantulan proyektor.
Pementasan Wayang Listrik tidak hanya didalangi oleh satu orang, melainkan beberapa dalang. Untuk memudahkan bergerak, para dalang berinovasi lagi dengan skateboard alias papan seluncur. Dengan menggunakan papan seluncur dalang-dalang ini akan lebih lincah dan efektif beraksi.
Menariknya, selain menggunakan bahasa Indonesia, kisah ini kadang diselipi oleh bahasa Inggris dan daerah Bali.
