Kena Semprot Lagi, AFC Sebut Liga Malaysia Gagal Jadi Liga Profesional dan Terancam Tertinggal di Asia Tenggara

Sekretaris Jenderal AFC, Windsor John
Sumber :
  • Dok. AFC

VoxPop – Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menyoroti lambannya proses privatisasi Liga Malaysia, sebuah isu yang kini dinilai berpotensi menghambat perkembangan sepak bola profesional Negeri Jiran di tengah ketatnya persaingan kompetisi Asia Tenggara.

img_title AFC Ikut Memanaskan Duel Timnas Indonesia vs Vietnam di Piala AFF 2026

Sorotan itu disampaikan langsung Sekretaris Jenderal AFC, Windsor Paul John, yang menilai transformasi sepak bola Malaysia menuju sistem profesional berjalan jauh lebih lambat dibanding ekspektasi.

Menurut dia, proses adaptasi yang terlalu lama terhadap model pengelolaan baru menjadi sesuatu yang tidak lazim jika dibandingkan dengan perkembangan liga-liga lain di kawasan maupun Asia secara umum.

img_title AFC Nyatakan Solidaritas untuk UEFA dan CONCACAF, Tolak Rencana FIFA Jual Saham Piala Dunia

“Jika Anda melihat apa yang terjadi di liga lain, saya pikir kita dapat menyebut ini tidak biasa, karena proses adaptasi ke model baru memakan waktu terlalu lama,” ujar Windsor seperti dikutip media Malaysia.Pernyataan tersebut mempertegas kekhawatiran AFC bahwa

Fondasi profesionalisme sepak bola Malaysia disebut AFC belum benar-benar terbentuk, meski gagasan privatisasi liga telah digaungkan sejak beberapa tahun terakhir.

img_title Media Asing Tuding AFC Bikin Timnas Indonesia Untung, Vietnam Malah Rugi di Piala AFF 2026

Windsor menegaskan bahwa sepak bola modern tidak lagi bisa dikelola dengan pendekatan lama yang terlalu bergantung pada asosiasi atau dana pemilik semata. Klub, kata dia, harus mampu berdiri sebagai entitas bisnis yang sehat dan berkelanjutan.

“Dalam konteks sepak bola modern, klub perlu beroperasi sebagai entitas komersial. Mereka harus mencari aliran pendapatan sendiri dan beroperasi seperti bisnis sungguhan,” lanjutnya.

Lebih jauh, Windsor menegaskan bahwa profesionalisasi sepak bola tidak cukup hanya dengan mengubah status administratif tim menjadi klub profesional. Menurut dia, yang jauh lebih penting adalah siapa pihak yang menjalankan klub serta bagaimana tata kelola organisasi tersebut diterapkan dalam praktik sehari-hari.

Komentar AFC itu muncul di saat banyak klub peserta Liga Malaysia tengah dihantam persoalan finansial. Beberapa klub dilaporkan mengalami kesulitan operasional, keterlambatan pembayaran gaji, hingga ketidakjelasan sumber pendanaan jangka panjang.

Situasi tersebut membuat operator kompetisi Liga Sepak Bola Malaysia bersiap menggelar pertemuan dengan para petinggi klub guna mencari jalan keluar atas problem finansial yang terus berulang.

Ucapan Windsor menjadi pengingat bahwa perubahan status liga tak akan berarti banyak jika klub-klub di dalamnya belum dikelola dengan standar profesional.

Pasalnya, profesionalisasi yang berjalan setengah hati berisiko menciptakan kompetisi yang rapuh secara finansial, sulit menarik sponsor, serta kehilangan kepercayaan dari suporter dalam jangka panjang.

Di tengah pesatnya perkembangan sejumlah liga regional, seperti Thai League dan Liga 1 Indonesia yang terus berbenah dari sisi komersial maupun tata kelola, stagnasi dapat membuat sebuah kompetisi tertinggal jauh dalam perebutan investasi, pemain berkualitas, hingga daya tarik pasar.

Kondisi yang dialami Liga Malaysia saat ini menunjukkan bahwa perubahan status kompetisi menjadi liga profesional belum cukup tanpa diiringi pembenahan menyeluruh di level klub maupun pengelolaan kompetisi. Tanpa perbaikan signifikan, Liga Malaysia berpotensi semakin tertinggal dari kompetisi lain di kawasan yang lebih cepat berbenah secara profesional.

Trofi Piala Presiden 2026

Jadwal Piala Presiden 2026 Sudah Diizinkan AFC

Panitia Pelaksana Piala Presiden Elite 2026 memberikan penjelasan terkait polemik jadwal pertandingan fase akhir turnamen yang memiliki jeda singkat antara semifinal dan

img_title
VoxPop.co.id
5 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut