6 Fakta Menarik Babak 32 Besar Piala Dunia 2026: Tim Papan Atas Eropa Berguguran, Afrika Ukir Sejarah
- REUTERS/Eloisa Sanchez
2. Tim Papan Atas Eropa Mulai Kehilangan Dominasi
Salah satu kejutan terbesar terjadi dari tumbangnya sejumlah tim elite Eropa.
Jerman menjadi sorotan utama setelah disingkirkan Paraguay melalui drama adu penalti. Kekalahan tersebut bukan sekadar membuat Der Panzer pulang lebih cepat, tetapi juga mengakhiri salah satu rekor paling legendaris dalam sejarah Piala Dunia.
Sebelum menghadapi Paraguay, Jerman selalu memenangkan seluruh adu penalti yang mereka jalani di Piala Dunia, yakni pada edisi 1982, 1986, 1990, dan 2006. Reputasi sebagai "raja adu penalti" akhirnya runtuh setelah Paraguay tampil lebih tenang dari titik putih.
Belanda juga mengalami nasib serupa. Tim Oranye yang datang dengan status unggulan harus mengakui ketangguhan Maroko melalui adu penalti setelah bermain imbang selama 120 menit.
Sementara itu, Kroasia yang dalam dua edisi terakhir selalu menjadi ancaman besar bagi negara-negara elite, harus menghentikan langkahnya setelah kalah dramatis 1-2 dari Portugal.
Meski Prancis, Inggris, Spanyol, Portugal, Belgia, dan Swiss masih bertahan, gugurnya beberapa tim papan atas menunjukkan bahwa dominasi Eropa tidak lagi mutlak seperti satu atau dua dekade lalu.
3. Afrika Tak Lagi Sekadar Pelengkap di Piala Dunia
Jika ada konfederasi yang paling mencuri perhatian pada babak 32 besar, jawabannya adalah Afrika.
Maroko, Mesir, dan Pantai Gading sama-sama berhasil melangkah ke babak 16 besar. Keberhasilan tersebut mempertegas peningkatan kualitas sepak bola Afrika yang sudah mulai terlihat dalam beberapa edisi terakhir.
Maroko kembali menjadi simbol kebangkitan benua Afrika. Setelah menciptakan sejarah sebagai semifinalis Piala Dunia 2022, Atlas Lions membuktikan pencapaian itu bukan keberuntungan semata. Mereka mampu menyingkirkan Belanda dalam pertandingan yang berlangsung sengit hingga adu penalti.
Keberhasilan Mesir dan Pantai Gading juga memperlihatkan bahwa kekuatan Afrika kini semakin merata. Banyak pemain mereka berkembang di liga-liga elite Eropa, sementara investasi terhadap pembinaan usia muda mulai menghasilkan generasi yang lebih matang secara teknik maupun mental.
Sejumlah media internasional menilai pencapaian tiga wakil Afrika di babak 16 besar menjadi salah satu indikator bahwa kesenjangan kualitas antar konfederasi semakin mengecil. Kini Afrika tidak lagi sekadar menghadirkan kejutan, tetapi mulai menjadi penantang serius dalam perebutan gelar.
