Harlin E. Rahardjo Puji Ledakan 1.900 Peserta 3rd GBK Fun Swimming 2026, Jadi Awal Lahirnya Atlet Renang Masa Depan
- istimewa
Penyelenggaraan 3rd GBK Fun Swimming Competition juga sejalan dengan kampanye "Ayo Berenang" yang terus digaungkan PB Akuatik Indonesia. Melalui gerakan tersebut, masyarakat diharapkan semakin mengenal dan mencintai olahraga renang sejak usia anak-anak.
3rd GBK Fun Swimming Competition 2026
- istimewa
Selain membidik prestasi, Harlin menilai budaya gemar berenang juga harus terus ditumbuhkan. Semakin banyak anak yang aktif berenang, semakin besar pula peluang Indonesia menemukan talenta-talenta baru di masa mendatang.
Di sisi lain, Direktur Utama PPKGBK, Rakhmadi Afif Kusumo, mengungkapkan jumlah peserta tahun ini meningkat signifikan dibandingkan penyelenggaraan 2025 yang hanya diikuti sekitar 1.100 hingga 1.200 orang.
Pada edisi 2026, jumlah peserta mencapai sekitar 1.900 orang atau naik lebih dari 50 persen. Menurutnya, peningkatan tersebut mencerminkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap olahraga renang.
"Pelaksanaan tahun ini lebih meriah karena tahun lalu itu 1.100 sampai 1.200, tahun ini sampai 1.900. Jadi antusiasmenya sangat tinggi, terutama dari orang tua, anak-anak juga pada semangat semua," ujar Rakhmadi.
"Tadi baru kita bagi-bagi hadiah untuk yang juara 1, 2, 3 freestyle boys sama freestyle girls-nya juga. Jadi, kita senang banget antusiasmenya naik dan kegiatan ini yang tahun ketiga untuk GBK," tambahnya.
Kompetisi tersebut juga mendapat apresiasi dari Kementerian Pemuda dan Olahraga. Deputi Bidang Pengembangan Industri Olahraga Kemenpora, Teuku Arlan Perkasa Lukman, menilai ajang ini memberikan manfaat tidak hanya bagi pembinaan atlet, tetapi juga bagi perkembangan industri olahraga.
Arlan menjelaskan, ribuan peserta yang hadir bersama anggota keluarganya turut menciptakan perputaran ekonomi di sekitar lokasi penyelenggaraan. Menurutnya, hal itu menunjukkan olahraga kini memiliki nilai ekonomi yang semakin besar.
"Jadi kami melihat bahwa ini adalah dari mulai talent pooling, yang kedua juga kita bicara tentang industri olahraganya. Dan ini terasa banget, karena anak kecil nggak mungkin datang sendirian, pasti dia bawa orang tua," ucap Arlan.
"Belum lagi nanti ada yang bawa neneknya tadi itu. Jadi inilah ada perputaran ekonomi ini. Kita melihat bahwa olahraga sekarang bukan lagi hanya cost center tapi merupakan revenue center untuk keberlangsungan atau keberlanjutan olahraga," tutupnya. (Ilham Giovani)
