Bigo Live: Kami Bukan Platform Pornografi

Ilustrasi Bigo Live.
Sumber :
  • Bigo Live

"Di Indonesia, kami punya 10 juta pengguna terdaftar dengan satu juta pengguna aktif setiap harinya. Indonesia masuk Top 5 negara pengguna Bigo. Total pengguna terdaftar di layanan kami dari seluruh dunia ada 60 juta. Akibat pemblokiran ini, trafik kami turun sampai 30 persen," curhat Yee.

img_title Polisi Bongkar Bisnis Gelap Sindikat Live Streaming Pornografi di Indramayu, Remaja Cantik Jadi Korban

Namun demikian, Yee mengaku berterima kasih kepada pemerintah dengan adanya blokir ini. Pasalnya, pengguna maupun broadcaster kini jadi semakin hati-hati saat sedang Live dan tidak lagi semau mereka melanggar aturan yang sebenarnya sudah ditetapkan Bigo.

"Sejak adanya pemblokiran, pengguna, apalagi broadcaster, sepertinya teredukasi dengan sendirinya dan mulai berhati-hati saat Live. Mereka tahu, platform ini bagus dan bisa mendatangkan uang, malah sampai menjadikan mereka selebriti. Ini yang akan kami jaga ke depannya," ujar Yee.

img_title Plot Twist di Live Streaming

Edukasi mengenai fungsi sebenarnya dari Bigo itulah yang akan dilakukan pihaknya ke depan. Yee ingin menghilangkan persepsi negatif masyarakat terhadap Bigo, yang bukan platform pornografi tapi untuk murni mengembangkan talent pengguna.

"Mereka yang melakukan pornografi atas nama Bigo Live, seperti yang disebar di YouTube, kami pastikan bukan dari platform kami karena di Bigo tidak ada fitur perekaman video. Semua hasil Live Streaming tak tersimpan ataupun terekam. Sedangkan iklan atas nama Bigo yang menampilkan wanita seksi dan sensual, bukan dari kami melainkan mereka mempromosikan situs palsu dengan nama yang sama," ujar Yee.

img_title Link Live Streaming iPhone 17 Series

Yee mengaku, saat mencari dengan keyword 'Bigo' di Google Search, akan muncul banyak situs palsu dengan nama yang sama. Situs-situs itulah yang dituding Yee telah menyebarkan konten pornografi. Padahal situs resmi Bigo hanyalah BigoLive.tv.

"Kami telah mengajukan tuntutan hukum untuk situs-situs palsu itu. Tantangan kami selanjutnya adalah mendaftarkan domain kami di setiap negara agar tidak ada yang bisa dipakai untuk disalahgunakan," katanya.

Tak dijanjikan apapun oleh Menkominfo

Yee juga sempat bercerita mengenai kunjungannya ke kantor Menkominfo. Dikatakannya, kala itu Menkominfo Rudiantara hanya mendengarkan penjelasan dari pihaknya. Di situ, mereka menjabarkan sistem censorship berlapis yang sebenarnya telah lama mereka miliki.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut