dr Tirta: Nilai IPK Tinggi Tidak Penting, Kesuksesan Ditentukan Empat Faktor

Pendapat dr. Tirta tentang nilai IPK tinggi tak berpengaruh terhadap kesuksesan orang
Sumber :
  • Instagram/@dr.tirta

VoxPop – Pendapat dr. Tirta terkait nilai IPK tinggi tidak penting menjadi bahan perbincangan di X. Menurutnya, keberhasilan seseorang didukung beberapa faktor lainnya. 

img_title Presiden Prabowo dan Wapres Gibran Dinilai Saling Melengkapi Sebagai Pemimpin Negara

Nilai Indeks Prestasi Kumulatif atau IPK menjadi momok menakutkan bagi setiap mahasiswa. Lantaran masih banyak yang beranggapan nilai IPK sangat memengaruhi kesuksesan seseorang. Pada akhirnya memengaruhi mahasiswa kerap menghalalkan berbagai cara untuk memperoleh IPK tinggi. Harapannya supaya bisa mencari pekerjaan lebih mudah setelah lulus. 

dr.  Tirta menyangkal stereotip tersebut. Menurutnya, IPK tidak relate dengan dibahas sebagai penentu keberhasilan seseorang. IPK juga  tidak ada korelasi dengan pekerjaan. 

img_title Dua Dekade Perjuangan Rosidah Membesarkan Usaha Gula Merah dan Berkembang Berkat KUR BRI, Intip Kisah Suksesnya

Ia berpandangan bahwa IPK hanya sebatas bentuk tanggung jawab kepada diri sendiri selama kuliah. Bahkan tidak berpengaruh terhadap pekerjaan. 

dr Tirta

Photo :
  • Instagram/dr.tirta
img_title Gibran Soal Kabinet Bayangan: Setiap Warga Negara Punya Hak Sampaikan Kritik ke Pemerintah

Laki-laki kelahiran 1991 itu mengungkapkan keberhasilan seseorang bukan ditentukan oleh nilai IPK tinggi atau tidak. Tetapi dipengaruhi oleh empat faktor, yakni networking, relasi kerja, privilege, dan keberuntungan. 

"IPK tuh nomor-nomor bawah. Mau kamu IPK 3,9 tapi jarang nongkrong (bersosialisasi) dan di rumah terus, nggak punya informasi loker (lowongan kerja), ya masa salah IPK-nya? Kan enggak," jelas dr. Tirta. Ketika podcast bersama Praz Teguh.

dr. Tirta menyebut Gibran Rakabumingraka yang kini menjadi wakil presiden sebagai contoh IPK rendah tapi bisa sukses. Dimana IPK putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak terlalu tinggi namun kariernya sukses di dunia politik dan wirausahawan. 

"Bukan ngerujak, itu bukti. Siapa pun bisa bermimpi dan jadi motivasi. Artinya walaupun IPK kamu 2,5 atau 2,7 itu tidak menghalangi mimpimu di masa depan," tegasnya.

Alumni Kedokteran Universitas Gadjah Mada bahkan mengaku dirinya mempunyai privilege yang membantunya menjadi seorang dokter dan melanjutkan S2 di ITB. Hal itu karena orang tuanya adalah mantan dosen. 

Fenomena privilege dalam menunjang karier seseorang tak hanya terjadi pada dirinya atau Gibran Rakabumingraka saja. Faktanya hal serupa juga dialami oleh orang-orang di sekitar. Namun, kita malas mengakuinya. 

“Apa yang dialami Mas Gibran sebenarnya relate juga dengan apa yang kita alami di sekitar kita,” ucap dr. Tirta.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut