Butuh Penguatan Kompetensi Guru untuk Implementasi Deep Learning dan Kurikulum Cinta

Direktur Eksekutif Leimena Institut Matius Ho
Sumber :
  • Ist

Jakarta, VoxPop – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag) sedang mengupayakan perbaikan sistem pendidikan melalui metode pembelajaran mendalam (deep learning) dan Kurikulum Cinta.

img_title Prabowo Mau Bangun Sekolah dengan Kurikulum Internasional, Bakal Siapkan Investasi Besar

Implementasi kedua konsep tersebut dinilai membutuhkan penguatan kompetensi guru yang salah satunya bisa dilakukan melalui program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB).

Hal itu disampaikan Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Amin Abdullah, dalam temu media Institut Leimena, Jumat, 21 Maret 2025.

img_title Sabtu Ini, Kemenag Gelar Doa dan Dzikir Kebangsaan di Monas Rayakan HUT ke-81 RI

Hadir sebagai narasumber lainnya Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Arif Jamali Muis, Koordinator Staf Khusus Menteri Agama, Farid F. Saenong, Presidium Dewan Gereja-gereja Sedunia, Henriette Lebang, dan Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho.

“Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya melatih guru memiliki kompetensi dalam multikulturalisme, multiagama, dan dalam pengalaman kami, dari 9.000 lebih guru yang sudah dilatih hampir semuanya belum pernah mendengar kompetensi itu,” kata Amin Abdullah, yang juga Senior Fellow Institut Leimena.

img_title Usung Kurikulum Dual System, Kemenperin Cetak Tenaga Kerja Vokasi Industri di SMK SMTI Padang

Amin menjelaskan program LKLB juga ikut mendukung BPIP untuk menghidupkan kembali karakter Pancasila pada generasi muda melalui Buku Teks Utama (BTU) Pendidikan Pancasila untuk guru dan siswa.

Dalam LKLB, guru dilatih tiga kompetensi dalam membangun relasi dengan orang lain yang berbeda agama dan budaya, yaitu kompetensi pribadi (memahami agama sendiri secara utuh), kompetensi komparatif (memahami agama lain dalam memaknai hubungan dengan sesama yang berbeda), dan kompetensi kolaboratif (kerja sama terlepas dari perbedaan yang ada).

Amin mengatakan metode deep learning salah satunya mendorong guru menerapkan pembelajaran yang menyenangkan (joyful), sehingga kompetensi literasi keagamaan lintas budaya bisa ikut mendukung hal tersebut yaitu mendorong pendidikan yang sarat nilai-nilai toleransi, menghormati orang lain, dan kerja sama. Hal senada juga muncul dalam konsep Kurikulum Cinta yang mengajarkan beragama dengan cinta kasih.

“Kombinasi kompetensi pribadi dan kompetensi komparatif, tujuannya kompetensi kolaborasi. Jadi masyarakat Indonesia yang plural jangan sampai membenci penganut agama lain. Ajaran agama apa pun tidak boleh membenci penganut agama lain atau mengkafir-kafirkan,” kata Amin.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut