Kisah Aldo Rinaldy: Dari Kontrakan Petak Hingga Punya Ratusan Karyawan

Qwner Lembaga Pendidikan Golden English, Aldo Rinaldy
Sumber :
  • Istimewa

Berkembangnya Golden English

img_title Belajar Bahasa Inggris Pakai AI Memang Beda

Tahun 2015 menjadi tonggak penting. Di usia 21 tahun, kursus bahasa Inggris yang ia rintis mulai mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.

Golden English mengusung tagline "Now Everyone Can Speak English" — sebuah pernyataan yang menggambarkan visinya: akses pendidikan berkualitas harus bisa dirasakan oleh semua kalangan.
Ia memutar kembali seluruh keuntungan bisnis untuk membangun fasilitas, merekrut tim pengajar profesional, mendatangkan native speaker, dan merancang kurikulum yang sesuai kebutuhan murid. Dalam waktu singkat, Golden English berkembang pesat dan membuka beberapa cabang baru.

img_title Prabowo Minta Selandia Baru Kirim Guru, Ajarkan Bahasa Inggris untuk PMI

Kehilangan Terbesar dan Kebangkitan Kembali

Namun perjalanan tidak selalu mulus. Tahun 2017 menjadi masa paling berat dalam hidup Aldo. Ibunya — sosok yang selalu mendampingi sejak awal — meninggal dunia.

img_title Berdayakan Masyarakat Sekitar Tambang, Anak Usaha Harum Energy Gelar Program Pos Pintar

“Berat. Ibu adalah satu-satunya support system terbaik. Membersamai tidak hanya melalui guidance, namun juga doa. Jujur ini kondisi paling berat, pulihnya lama sekali. Ada perasaan seperti setengah energi hilang. Di setiap sudut rumah, kantor, bahkan kelas ada sentuhan ibu, ada doanya juga di sana,” tutur Aldo dengan lirih.

Dalam duka yang mendalam, Aldo sadar bahwa keterpurukan tidak akan membawa perubahan. Ia bangkit. Ia tidak hanya ingin mempertahankan Golden English, tetapi juga ingin menjadikannya lebih besar dan berdampak lebih luas.

Dari Lokal ke Korporasi

Tahun-tahun berikutnya membuktikan ketangguhannya. Golden English mulai dipercaya oleh perusahaan-perusahaan besar untuk program in-house training, termasuk klien dari luar negeri. Beberapa artis papan atas pun menjadi bagian dari pengguna layanan Golden English, salah satunya Prilly Latuconsina.

Lembaga ini semakin tumbuh menjadi salah satu institusi pelatihan bahasa Inggris yang diperhitungkan secara nasional.

Menjawab Tantangan Pandemi

Pandemi COVID-19 membawa tantangan baru. Dengan 9 cabang yang mayoritas beroperasi secara offline, pendapatan Golden English sempat turun drastis hingga 70%. Namun lagi-lagi, Aldo menjawab tantangan dengan inovasi.

“Karena produk utama kita adalah kelas offline, sehingga saat COVID datang kita sangat terdampak,” jelasnya.

Alih-alih menyerah, ia melihat peluang dalam krisis. Ia dan tim mengembangkan berbagai platform digital, seperti Golden English Apps (GEA), sistem ERP terpadu yang membantu siswa mengakses informasi akademik, jadwal, dan kemajuan belajar. Selain itu, ia memperkuat layanan Golden Online Class (GOC), satu-satunya produk yang tetap bisa dijual selama pandemi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut