Jadi Pilihan Meghan Trainor untuk Punya Anak Ketiga, Kenapa Surrogacy Selalu Tuai Pro dan Kontra?
- Istimewa
VoxPop – Surrogacy atau praktik ibu pengganti semakin sering menjadi sorotan publik. Seiring berkembangnya teknologi reproduksi, metode ini dipandang sebagai jalan keluar bagi pasangan yang sulit memiliki anak, termasuk pasangan dengan masalah medis atau keterbatasan biologis.
Tidak sedikit pula figur publik dan selebritas yang secara terbuka mengumumkan kelahiran anak melalui surrogacy, sehingga praktik ini terlihat semakin lumrah. Terbaru, ada penyanyi Meghan Trainor, yang membagikan kelahiran anak ketiganya lewat ibu pengganti.
Namun di balik narasi harapan dan kebahagiaan, surrogacy juga memicu perdebatan panjang. Banyak kalangan menilai praktik ini menyimpan persoalan etika, risiko kesehatan, hingga pelanggaran hak anak. Scroll untuk info lebih lanjut...
Perbedaan pandangan inilah yang membuat surrogacy terus menuai pro dan kontra di berbagai negara, bahkan memicu perbedaan regulasi hukum yang tajam antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Apa itu surrogacy atau ibu pengganti?
Melansir dari The Heritage Foundation, Kamis, 22 Januari 2026, surrogacy adalah pengaturan di mana seorang perempuan mengandung dan melahirkan anak untuk individu atau pasangan lain yang tidak dapat melakukannya sendiri.
Dalam beberapa kasus, anak tersebut memiliki hubungan genetik dengan orang tua pemesan. Namun sering kali digunakan donor sel telur atau sperma, sehingga anak hanya memiliki hubungan biologis dengan satu orang tua, atau bahkan tidak sama sekali.
Praktik ini dapat dilakukan secara domestik maupun lintas negara. Surrogacy internasional menambah kompleksitas karena melibatkan perbedaan hukum, status kewarganegaraan, serta penetapan orang tua secara legal.
Alasan Surrogacy Tuai Pro dan Kontra
Pihak yang mendukung surrogacy melihat praktik ini sebagai bentuk bantuan dan solidaritas. Bagi pasangan yang tidak memiliki rahim, mengalami gangguan medis serius, atau pasangan sesama jenis, surrogacy dianggap sebagai satu-satunya cara untuk memiliki anak secara legal.
Dalam beberapa kasus, surrogacy juga dilakukan secara altruistik, misalnya seorang perempuan yang bersedia mengandung untuk saudara atau sahabat dekat tanpa motif keuntungan finansial. Pendukungnya berpendapat bahwa selama ada persetujuan sukarela dan perlindungan hukum yang jelas, surrogacy dapat menjadi solusi yang sah dan manusiawi.
