10 Fakta Virus Nipah yang Diam-diam Mematikan, Gejalanya Mirip Flu tapi Bisa Serang Otak
- Pixabay
Jakarta, VoxPop – Dunia saat ini tengah diramaikan dengan ancaman penyakit menular berbahaya. Setelah pandemi COVID 19 mereda, kini virus Nipah menjadi perhatian global. Kasus terbaru di India menunjukkan virus ini tak lagi sekadar menular dari hewan ke manusia, tetapi juga bisa menyebar antarmanusia.
Sejumlah negara Asia Tenggara sudah bergerak cepat memperketat pengawasan di bandara dan fasilitas kesehatan. Indonesia pun diminta tidak lengah, mengingat arus wisatawan dan pekerja dari India cukup tinggi.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama seperti dilansir Antara menilai langkah antisipasi sejak dini sangat penting agar Indonesia tidak kecolongan.
Berikut fakta-fakta penting virus Nipah yang perlu dipahami masyarakat.
1. Virus dengan tingkat kematian sangat tinggi
Berbeda dengan flu musiman atau COVID 19 varian ringan, virus Nipah tergolong sangat mematikan. Berdasarkan berbagai laporan kesehatan global, tingkat kematiannya berkisar 40 persen hingga 75 persen. Artinya, dari empat orang yang terinfeksi, bisa jadi hanya satu yang selamat pada kasus berat.
Angka fatalitas setinggi ini membuat WHO memasukkan Nipah dalam daftar penyakit prioritas yang berpotensi memicu epidemi besar. Karena itu, setiap kemunculan kasus baru langsung mendapat perhatian serius dari otoritas kesehatan dunia.
2. Awalnya menular dari hewan liar ke manusia
Virus Nipah termasuk penyakit zoonosis, yakni infeksi yang berpindah dari hewan ke manusia. Sumber utamanya adalah kelelawar buah, serta hewan ternak seperti babi yang sudah terpapar virus.
Penularan bisa terjadi ketika manusia bersentuhan langsung dengan hewan sakit, kotorannya, atau mengonsumsi makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi air liur kelelawar. Karena itu, daerah peternakan dan wilayah dengan populasi kelelawar tinggi menjadi area berisiko.
3. Bisa Menular Antarmanusia
Yang membuat situasi semakin mengkhawatirkan, virus Nipah tidak lagi terbatas pada penularan dari hewan. Di India, virus ini sudah menyebar antarmanusia, terutama melalui kontak erat dengan pasien.
Penularan dapat terjadi lewat cairan tubuh, droplet, atau saat anggota keluarga maupun tenaga kesehatan merawat pasien tanpa perlindungan memadai. Pola ini membuat risiko wabah di lingkungan padat penduduk jauh lebih besar.
