Diabetes Melitus Tipe 2: Hal-Hal Penting yang Wajib Diketahui Pasien

Ilustrasi diabetes
Sumber :
  • pixel-shot.com dari Freepik

VoxPop Diabetes melitus tipe 2 dan obesitas merupakan dua penyakit metabolik yang saling berkaitan erat dan masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang terus meningkat di Indonesia. Berdasarkan International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas 2025 , diperkirakan terdapat 20,4 juta orang dewasa berusia 20–79 tahun yang hidup dengan diabetes di Indonesia, dan jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 28,6 juta pada tahun 2050. 

img_title Diabetes Tipe 2 Tak Hanya Mengganggu Gula Darah, Bisa Berdampak pada Kesehatan Mental?

Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023  mencatat prevalensi obesitas pada orang dewasa Indonesia telah mencapai 23,4 persen, menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam satu dekade terakhir. Kedua kondisi ini secara signifikan meningkatkan risiko berbagai komplikasi serius, termasuk penyakit kardiovaskular dan penyakit ginjal kronis, serta menurunkan kualitas hidup pasien. Hal ini menegaskan pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif dalam penanganan penyakit metabolik.

Sementara itu, Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI), Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D. menekankan obesitas sebagai salah satu penyakit metabolik yang perlu dikelola dengan tepat. 

img_title Penderita Diabetes Tak Harus Berhenti Makan Karbohidrat, Ini 7 Pilihan yang Lebih Ramah Gula Darah

"Bicara tentang obesitas bukan sekadar bicara tentang bentuk tubuh (body shape). Obesitas adalah masalah perubahan faktor metabolisme tubuh. Oleh karena itu, pendekatan penanganan obesitas menjadi sangat krusial sebagai langkah preventif untuk mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut," kata dia di Jakarta, Sabtu 4 Juli 2026. 

Dengan menurunkan angka obesitas, kata dia ini secara langsung dapat menurunkan angka kejadian diabetes, menurunkan angka hipertensi, serta menekan risiko penyakit kardiovaskular dan penyakit penyerta lainnya.

img_title Sering Dianggap Musuh Gula Darah, Benarkah Nasi Harus Dihindari Penderita Diabetes?

Terapi Tirzepatide

Tirzepatide merupakan obat resep agonis reseptor ganda GIP (glucose-dependent insulinotropic polypeptide) dan GLP-1 (glucagon-like peptide-1) pertama di kelasnya yang yang menawarkan pilihan terapi baru berbasis bukti (evidence based) untuk penanganan diabetes melitus tipe 2 dan obesitas.

Tirzepatide bekerja dengan mengaktivasi dua hormon inkretin alami, yaitu GIP dan GLP-1, yang berperan penting dalam mengatur kadar gula darah, meningkatkan sensitivitas insulin, serta mengendalikan nafsu makan dan keseimbangan energi. Mekanisme kerja ganda ini menghadirkan pendekatan terapi yang lebih komprehensif dalam pengelolaan diabetes melitus tipe 2 maupun obesitas.

"Berbagai studi klinis menunjukkan bahwa tirzepatide mampu memberikan kontrol glikemik yang signifikan sekaligus menghasilkan penurunan berat badan yang berarti pada pasien diabetes melitus tipe 2. Kehadiran inovasi ini memperluas pilihan terapi penyakit metabolik sehingga dokter dapat semakin mempersonalisasi pengobatan berdasarkan karakteristik klinis dan komplikasinya, serta pedoman praktik klinis yang berlaku," kata Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD-KEMD. 

Ilustrasi Nasi Putih

Stop Makan Nasi Putih Tapi Gula Darah Masih Melonjak? Atasi dengan Mengikuti Saran dr Zaidul Akbar

Tidak jarang ditemui kasus di mana seseorang sudah berupaya mengurangi mengonsumsi nasi putih, namun gula darah tidak kunjung turun. Ikuti langkah saran berikut

img_title
VoxPop.co.id
31 Juli 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut