Pernah Kena DBD Gak Menjamin Kebal, Dokter Ungkap Faktanya!

Ilustrasi Demam Berdarah Dengue (DBD)
Sumber :
  • VoxPop.co.id/Andrew Tito

VoxPop – Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi ancaman kesehatan yang perlu diwaspadai masyarakat, terutama bagi anak-anak. Di tengah anggapan bahwa seseorang yang pernah terinfeksi DBD akan kebal terhadap penyakit tersebut, dokter mengingatkan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

img_title Cegah DBD, Enesis Group dan Soffell Geber Kampanye Promotif Asean Dengue Day 2026

Memasuki tahun ajaran baru, perhatian orang tua umumnya tertuju pada berbagai kebutuhan sekolah, mulai dari seragam hingga perlengkapan belajar. Namun, perlindungan kesehatan anak, termasuk dari risiko DBD, juga menjadi hal yang tidak boleh diabaikan mengingat anak akan lebih banyak beraktivitas di luar rumah.

Data Kementerian Kesehatan periode 2018–2025 menunjukkan bahwa kelompok usia 5–14 tahun secara konsisten menjadi kelompok dengan proporsi kematian akibat dengue tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya. Pada 2025, sebanyak 59 persen kematian akibat dengue terjadi pada anak usia 0–14 tahun, sementara 41 persen di antaranya berasal dari kelompok usia 5–14 tahun. Fakta ini memperlihatkan bahwa anak masih menjadi kelompok yang paling rentan mengalami dampak serius akibat infeksi dengue.

img_title Waspada DBD, Tercatat Sebanyak 1.538 Kasus di Jakarta Barat Sepanjang 2026

Pernah Terinfeksi DBD Belum Tentu Kebal

Dokter sekaligus kreator konten, dr. Ikhsanuddin Qothi, menjelaskan bahwa banyak masyarakat belum memahami bahwa virus dengue memiliki empat serotipe berbeda, yaitu DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4. Seseorang yang pernah terinfeksi salah satu serotipe masih berpeluang terinfeksi kembali oleh serotipe lainnya.

img_title Anak hingga Dewasa Berisiko Kena DBD, Ketahui Tanda-tandanya!

“Setelah terinfeksi salah satu serotipe, seseorang masih dapat terinfeksi kembali oleh serotipe yang berbeda. Infeksi berikutnya dapat meningkatkan risiko terjadinya dengue berat. Karena itu, orang tua tetap perlu melakukan pencegahan meskipun anak atau anggota keluarga sebelumnya pernah terkena dengue. Hingga saat ini, belum ada obat khusus yang dapat menyembuhkan dengue. Penanganan yang diberikan bertujuan untuk membantu mengatasi gejala, menjaga kondisi pasien, dan mencegah perburukan. Deteksi dini dan akses terhadap penanganan medis yang tepat berperan penting dalam menurunkan risiko dengue berat. Orang tua juga tidak boleh langsung merasa aman ketika demam anak mulai turun. Pada sebagian pasien, tanda bahaya justru dapat muncul setelah demam mereda. Jika anak mengalami muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, mimisan atau gusi berdarah, terlihat sangat lemas, gelisah, atau mengalami penurunan kesadaran, segera bawa ke fasilitas kesehatan,” jelas dr. Ikhsan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut