Kecerdasan Buatan bikin Geregetan

Ilustrasi kegiatan manusia diawasi kecerdasan buatan (AI).
Sumber :
  • IT PRO

VoxPop Tekno – Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini telah hadir dalam kehidupan sehari-hari, setelah dalam waktu yang lama hanya dianggap sebagai bahan fiksi ilmiah dan penelitian dasar.

img_title 3 Aplikasi AI yang Memudahkan untuk Pelajaran Sekolah 2026: Solusi Cerdas Mengatur Jadwal, Tugas, dan Catatan

Saat ini, jutaan orang menggunakan aplikasi seperti program bahasa AI ChatGPT atau Bard setiap harinya. Menurut para ahli, ini hanyalah permulaan.

"AI saat ini sedang menikmati 'momen iPhone' mereka. Aplikasi seperti ChatGPT, yang mudah digunakan dan tidak memerlukan pengetahuan teknis sebelumnya, telah menghadirkan kecerdasan buatan kepada pengguna akhir. Dan itu akan berdampak kepada masyarakat secara keseluruhan," ungkap Léa Steinacker, peneliti sosial, seperti dikutip dari situs Deutsche Welle, Senin, 8 Januari 2024.

img_title Membongkar 3 Smartwatch Terbaik 2026, Ketika Performa, Kesehatan, dan Produktivitas Menjadi Satu Kesatuan

ChatGPT.

Photo :
  • Getty Images

Pengenalan smartphone Apple di 2007, menurut dia, dianggap sebagai titik balik karena semakin banyak orang mulai menggunakan internet lewat ponsel pintar/HP. Seperti apa perdebatan tentang kecerdasan buatan yang bisa kita lihat pada 2024?

img_title Transformasi dan Inovasi Teknologi Makin Pesat, Investasi Modern Lewat AI & Riset Jadi Tren Baru

Apa yang disebut AI generatif memungkinkan pembuatan teks dan gambar yang meyakinkan dalam hitungan detik.

Hal ini juga termasuk pembuatan deepfake (pemalsuan mendalam) yang membuat seseorang seolah mengatakan atau melakukan hal-hal yang tidak pernah mereka katakan atau lakukan.

Para ahli khawatir akan terjadi kampanye disinformasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya pada tahun pemilu 2024. Seperti diketahui, tahun ini akan ada pemilihan presiden baru AS, pemilu Parlemen Eropa, dan beberapa pemilu lain di Asia, termasuk di Indonesia.

Ada kekhawatiran bahwa deepfake akan digunakan untuk memengaruhi opini publik menjelang pemilu atau untuk memicu kerusuhan.

"Kunci untuk mempercayai proses pemilu UE (Uni Eropa) adalah apakah kita dapat mengandalkan infrastruktur keamanan siber dan integritas informasi," kata Juhan Lepassaar, Direktur Badan Keamanan Siber UE (ENISA).

Seberapa besar pengaruh deepfake juga akan bergantung pada seberapa besar perusahaan media sosial berusaha menahan penyebarannya.

Platform seperti YouTube milik Google atau Facebook dan Instagram milik Meta telah memperkenalkan kebijakan pelabelan untuk konten yang dihasilkan AI.

Tahun ini, baik atau buruknya kinerja mereka akan sangat bisa dilihat. Untuk mengembangkan aplikasi AI generatif, perusahaan melatih model komputer dengan teks atau gambar dalam jumlah besar dari internet.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut