Siapa SimpleMan Penulis Cerita Horor KKN di Desa Penari?
- YouTube/Raditya Dika
VoxPop – Cerita KKN di Desa Penari yang ditulis dan dipublikasikan SimpleMan masih menyita perhatian warganet, beberapa hari belakangan. Lewat akun Twitter @SimpleM81378523, KKN Desa Penari viral dan jadi perbincangan di berbagai linimasa.
Dalam klarifikasi yang disampaikan SimpleMan di YouTube Raditya Dika, pria misterius ini mengatakan bahwa cerita tersebut awalnya dia dapat dari hasil curi dengar pengalaman teman ibunya. SimpleMan menyebut bahwa teman tersebut tergolong lintas usia karena sang ibu dan wanita yang jadi narasumbernya itu terpaut perbedaan umur yang jauh.
SimpleMan juga mengklarifikasi bahwa sejumlah bagian memang mengalami perubahan dari cerita asli narasumbernya, yang dia samarkan menjadi versi Widya dan Nur. Salah satunya soal jumlah mahasiswa yang ikut KKN. Aslinya, SimpleMan mengungkap memang ada 14 orang di mana 6 orang di antaranya adalah perempuan. Dia bahkan menyebut ada dosen pembimbing yang ikut di sana.
Dengan dalih ingin mempermudah jalan cerita dan menyamarkan sosok sebenarnya, SimpleMan pun memutuskan untuk memuat 6 tokoh utama saja dalam thread KKN Desa Penari tersebut. Karena hal itu, mulai banyak yang menduga bahwa SimpleMan sendiri adalah salah satu dari sekian mahasiswa yang ikut KKN.
Baca Juga: Raditya Dika Unggah Klarifikasi KKN Desa Penari
Penuturannya yang begitu lengkap dan jelas dianggap menjadi salah satu alsan yang menajamkan spekulasi tersebut. Ada pula yang menduga bahwa SimpleMan adalah anak dari dosen pembimbing yang dimaksud, mengingat dia mengatakan bahwa usia ibu dan narasumber ceritanya terpaut jauh. Namun semua hanya dugaan warganet yang bersemangat membedah detail cerita menghebohkan ini. Lantas siapa sebenarnya SimpleMan?
Tak ada informasi terkait sosok aslinya, karena SimpleMan memilih menjadi akun anonim. Pria ini mengatakan punya beberapa alasan menjadi sosok anonim, salah satunya karena ingin jadi pribadi yang low profile.
"Saya juga ingin menjaga privasi dari narasumber, karena cerita ini biasanya bersifat sensitif untuk beberapa orang dan bisa saja jadi perdebatan karena menyangkut kepercayaan masing-masing," kata pria dengan logat Jawa yang kental itu kepada Raditya Dika.
