Lima Tradisi Perayaan Tahun Baru Islam di Indonesia
- Twitter Kraton Jogja
Ledhug Suro adalah salah satu perayaan di Jawa Timur yang diselenggarakan oleh masyarakat Kabupaten Magetan, dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam atau Tahun Baru Hijriah (Muharamm) yang juga bertepatan dengan 1 Suro. Dalam perayaan Ledug Suro ini terdapat juga ritual Ngalub Berkah Bolu Rahayu, yang dipercaya membawa rejeki bagi masyarakat sekitar.
Dalam prosesi Ledug Suro, diakhiri dengan kegiatan kirap yang membawa Roti Bolu dalam bentuk Lesung dan Bedhug di alun-alun Magetan yang diikuti oleh Bagus dan Dyah Magetan dan beberapa hasil bumi Magetan.
Baca juga: Akun Twitter Ahli Epidemiologi UI Pandu Riono Diduga Diretas
4. Barik'an
Merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat di Jawa dalam memperingati 1 Muharram. Dalam kegiatan inu masyarakat akan berbondong-bondong ke tempat acara selametan berlangsung dengan membawa sega (nasi) lengkap dengan lauk pauk (tempe, tahu dan sayur) atau sering disebut warga dengan istilah "Encek" yang diletakkan di tengah-tengah kerumunan.
Encek biasanya diletekaan pada wadah yang terbuat dari pelepah pohon pisang dan rakitan/anyaman bambu.Encek tersebut dimaksudkan untuk ikut disertakan dalam doa’ yang akan dipanjatkan bersama-sama.
Setelah masyarakat sudah berkumpul semua, mulailah doa dipanjatkan. Harapanya dengan masuknya tahun baru hijriah ( 1 suro) masyarakat daerah setempat mendapat “keselamatan” dalam kehidupanya.
Setelah proses doa selesai, warga kembali berbondong-bondong mengambil Encek untuk dibawa pulang, namun biasanya warga akan mengambil encek yang bukan miliknya dengan kata lain ada prosesi tukar-menukar Encek.
https://pundungsari-tempursari.lumajangkab.go.id/index.php/first/artikel/76--Barik-an-Suro--Tradisi-Turun-temurun-Menyambut-Tahun-Baru-Hijriah--1Suro-
5. Mubeng Benteng
Tradisi Mubeng Benteng ini merupakan jalan memutari benteng Keraton Yogyakarta. Selama mengikuti prosesi Mubeng Beteng, peserta diharuskan untuk melakukan tapa bisu atau tidak berbicara.
Acara Mubeng Benteng ini biasa diikuti oleh para abdi dalem Keraton Yogyakarta dan masyarakat umum. Biasanya ada ribuan peserta dari masyarakat umum yang ikut dalam prosesi Mubeng Beteng ini.
Iringan Mubeng Beteng diawali dengan rombongan abdi dalem Keraton Yogyakarta yang memakai pakaian Jawa Peranakan. Para abdi dalem ini membawa sejumlah pusaka milik Keraton Yogyakarta dan sebuah bendera merah putih. Selama mengikuti prosesi Mubeng Beteng, para abdi dalem tidak memakai alas kaki saat berjalan.
