Kisah Dokter Hasto Galakkan Program KB ke Pelosok: Dibayar Pakai Nanas Hingga Singkong
- BKKBN
"Hari ini stunting di Mahakam Ulu angkanya terendah di Kalimantan Timur, karena jumlah penduduknya hanya 38 ribu. Saya yakin stunting betul-betul bisa dicegah. Setahun jumlahnya 650 orang yang hamil di Mahakam Ulu, sebulan 60 lebih sedikit, kira-kira sehari yang melahirkan dua orang," papar dokter Hasto.
Selanjutnya, ia mengarahkan Kepala Dinas Petronella dan satgas stunting untuk membuat WA grup dengan para penyuluh keluarga. "Dilaporkan panjang badan bayi yang baru dilahirkan toh hanya dua orang sehari. Kalau ada bayi yang panjangnya kurang dari 48 cm, maka segera dilakukan intervensi, di enam bulan pertama harus ASI eksklusif," ujar dokter Hasto.
Bekerja Pakai Perasaan
Tantangan untuk mengatasi hambatan sejatinya sudah merupakan hal biasa bagi tenaga kesehatan. Dokter Hasto bercerita ketika dirinya menjadi satu-satunya dokter yang bertugas di daratan hulu, tepatnya di Puskesmas Melak dan Puskesmas Kahala. Ia berkata, pasien yang berobat berpikirnya sudah identik dengan meminta disuntik.
Karena keterbatasannya, biaya berobat pun seringkali dibayar dengan nanas dan singkong. "Masyarakat Dayak ikhlas-ikhlas, dahulu mereka naruh ayam, makanan, buah di depan pintu puskesmas, kalau ditanya tidak ada yang mengaku. Makanya pak dokter dan bidan sekarang ini disyukurilah, dulu lima tahun saya tidak dibayar, masyarakatnya hanya mampu memberikan hasil panen mereka," kata dokter Hasto.
Membangkitkan dan memotivasi para tenaga kesehatan yang hadir, dokter Hasto pun membagikan pengalamannya dahulu ketika bertugas di wilayah terpencil ini. Ia pernah bertemu dengan seorang pastor (pemuka agama Katolik), yang kata-katanya masih diingat sampai saat ini. Di dalam situasi yang sangat sulit, pastor tersebut justru memberinya sebuah kata-kata motivasi.
"Romo (pastor) itu bilang begini, kalau melayani masyarakat itu dengan perasaan, kalau melayani dirinya sendiri dengan fisik saja. Kalau Pak Dokter sedang merasa lelah, itu sebenarnya hanya perasaan saja. Bapak masih bisa jalan, masih bisa periksa pasien. Kalau fisiknya oke, segera layani saja, gunakan perasaan. Wah, mendengar itu saya nangis," ujar dokter Hasto menjelaskan.
Nasihat tersebut terus ia terapkan. Bahkan ketika dua kali menjabat sebagai Bupati Kulonprogo (DI Yogyakarta). Seberat apapun keadaan, apabila disyukuri, katanya akan selalu ada jalan yang terbuka yang memudahkan.
