Kolom Prof Tjandra: Perkembangan Pandemi COVID-19 dan Tuberkulosis

Guru Besar Paru FKUI & Mantan Direktur Regional WHO SEARO, Profesor Tjandra Yoga Aditama
Sumber :
  • satgas covid-19

VoxPop – COVID-19 dengan lebih dari 3 juta kematian “menggantikan” tuberkulosis sebagai penyebab kematian tertinggi akibat satu penyakit infeksi dalam satu tahun.

img_title Kematian Karumga Eks Jampidsus Masih Misteri, DPR: Seret Pelakunya Tanpa Kompromi!

Sudah bertahun-tahun sebelumnya penyebab kematian tertinggi akibat satu penyakit menular (“cause of death by a single infectious disease”)  di dunia adalah tuberkulosis, dan kini digantikan oleh COVID-19 yang kita belum tahu kapan akan berakhir. 

Di sisi lain, pada masa awal pandemi COVID-19 berbagai pakar dan organisasi dunia sudah memperkirakan bahwa pandemi akan memperburuk situasi epidemiologi tuberkulosis.

img_title Kematian Sutrimo yang Diduga Karumga Febrie Adriansyah Masih Misterius, Keluarga Diminta Lapor Jika Ada Kejanggalan

Selain dampak langsung akibat prioritas berbagai negara kini adalah penanganan COVID-19 yang juga membuat program pengendalian tuberkulosis jadi terganggu, juga akan ada “collateral damage” yang masih akan berdampak beberapa tahun ke depan.

Kita juga mengetahui bahwa berbagai komorbid pada tuberkulosis juga berpengaruh buruk pada perjalanan COVID-19, seperti diabetes mellitus dan mungkin “human immunodeficiency virus (HIV)”. WHO menyampaikan bahwa target penanggulangan TB dunia tahun 2020 berupa penurunan insidens 20% antara 2015 dan 2020 nampaknya tidaklah tercapai.

img_title Polisi Dalami Kematian Sutrimo yang Diduga Karumga Febrie Adriyansyah Apakah Wajar atau Ada Unsur Pidana

Kini diperkirakan setidaknya seperempat (25%) penduduk dunia sudah pernah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis, kuman penyebab tuberkulosis. “World Health Organization (WHO)” menyampaikan bahwa sebenarnya puncak insidens tuberkulosis di dunia terjadi pada sekitar 2003 dan lalu menurun perlahan sampai 2019, tahun dimana masih ada 1,6 juta orang yang meninggal akibat tuberkulosis.

Datangnya pandemi COVID-19 mengubah kecenderungan (“trend”) penurunan ini, dan diperkirakan deteksi kasus TB turun sampai 50% di banyak negara di dunia. Diperkirakan bahwa dampak tidak langsung (“indirect impact”) pandemi COVID-19 menyebabkan penambahan 400.000 kematian akibat TB pada 2020 yang lalu. Publikasi awal 2021 berjudul Tuberculosis and COVID-19 interaction: A review of biological, clinical and public health effects membahas cukup banyak interaksi dua penyakit ini.

Dari kacamata mekanisme imunologi  memang terjadi gangguan akibat kedua hal ini yang disebut Shared dysregulation of immune responses, yang akan memengaruhi perjalanan penyakit  COVID-19 berat dan juga perburukan tuberkulosis. Sejauh ini bukti yang ada dari aspek klinik menunjukkan COVID-19 dapat saja terjadi pada berbagai fase TB, jadi tidak ada pola khusus.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut