Benarkah Konsumsi Daging dan Telur Unggas Berisiko Terinfeksi Flu Burung?

Telur ayam (ilustrasi)
Sumber :
  • Freepik/freepik

“Virus avian influenza A(H5N1) yang dominan sekarang beredar secara global di antara unggas berbeda dari virus A(H5N1) sebelumnya. Virus flu burung terus berubah, yang dapat memengaruhi seberapa mudah virus menyebar dari burung ke hewan lain, termasuk manusia, dan juga seberapa parah penyakitnya,” tambah badan tersebut.

img_title Harga Beras, Bawang Putih, Telur dan Daging Ayam Kembali Melonjak, Cek Daftarnya

Risiko Penularan Lewat Makanan
CFIA juga menjelaskan bahwa infeksi flu burung A(H5N1) pada manusia jarang terjadi dan sebagian besar terjadi setelah kontak dekat dengan unggas yang terinfeksi atau lingkungan yang sangat terkontaminasi seperti peternakan unggas atau pasar unggas hidup.

"Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa memakan daging unggas atau telur yang dimasak dengan matang dapat menularkan virus flu burung ke manusia,” kata badan tersebut.

img_title Harga Minyak Goreng, Gula, Beras hingga Telur Ayam Kembali Melonjak, Cek Daftar Lengkapnya

Selanjutnya juga dijelaskan bahwa virus menyebar melalui kontak langsung dengan unggas hidup yang sakit atau permukaan dan benda yang terkontaminasi oleh kotorannya.

"Akibatnya, pemburu makanan tradisional, seperti angsa liar dan bebek, dan orang yang menyiapkan makanan ini mungkin berisiko lebih tinggi," pungkas Health Canada.

img_title Harga Daging dan Telur Ayam Melonjak Meski Beras dan Bawang Turun, Cek Daftar Lengkapnya

Ilustrasi flu burung lewat unggas

Photo :
  • Times of India

Untuk membantu mengurangi risiko apa pun, agensi tersebut merekomendasikan orang Kanada untuk memasak hewan buruan secara menyeluruh hingga suhu internal sekitar 71 C (160 F), dan menghindari kontak langsung dengan darah, kotoran, dan sekresi pernapasan semua burung liar.

Mereka juga merekomendasikan orang untuk tidak makan, minum atau merokok saat membersihkan burung buruan liar dan memakai sarung tangan pencuci piring atau sarung tangan lateks saat menangani atau membersihkan buruan.

"Belum ada kasus virus pada manusia yang diketahui di Kanada terkait dengan wabah saat ini. Meskipun kasus HPAI H5N1 pada manusia telah tercatat di beberapa negara, belum ada bukti penularan berkelanjutan dari manusia ke manusia,” kata CFIA.

Tetap Rentan Menginfeksi Manusia
Jonathan Ball, profesor virologi molekuler di Universitas Nottingham Inggris, mengatakan kepada The Associated Press bahwa selalu ada risiko infeksi pada manusia meskipun kemungkinannya rendah. Virus ini terus bermunculan di berbagai mamalia dan ini berpotensi meningkatkan kemungkinan infeksi lebih lanjut pada manusia. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut