3 Orang Meninggal Akibat Penyakit Misterius di Burundi, Diimbau Hindari Makan Hewan Liar
- Freepik/kjpargeter
VoxPop Lifestyle – Tiga orang di negara Burundi yang dikarantina telah kehilangan nyawa mereka selama tiga hari karena penyakit yang belum diidentifikasi secara resmi. Kondisi ini telah memaksa puluhan orang lainnya menjalani karantina ketat.
Otoritas kesehatan mendesak penduduk di negara kecil Afrika Timur untuk sering mencuci tangan dan menghindari makan hewan liar dalam upaya menghentikan penularan penyakit misterius yang mematikan.
Gejala penyakit ini mirip dengan virus ebola dan marburg yang sangat berbahaya, namun Kementerian Kesehatan Burundi telah mengesampingkan kedua penyakit tersebut. Menurut para saksi, tanda-tanda penyakit tersebut termasuk perdarahan di hidung setelah korban meregang nyawa.
Ilustrasi sakit perut
- Pexels/sora shimazaki
"Tanda sakit perut, pendarahan hidung yang meningkat setelah kematian, sakit kepala akut, demam tinggi, muntah dan pusing," lapor situs berita SOS Media Burundi, dikutip laman News.
Ketiga pasien dilaporkan meninggal dalam waktu 24 jam dengan gejala muncul, dengan semua tinggal di lingkungan yang sama.
“Itu adalah penyakit yang membunuh dengan cepat,” kata seorang perawat dari pusat kesehatan Migwa kepada situs berita. "Ini mengerikan, kita semua menunggu kematian."
Dapat dipahami bahwa dia bekerja di pusat perawatan kesehatan yang menerima dua pasien pada jam-jam terakhir mereka.
Sementara itu seorang siswa berusia 18 tahun dari komunitas Burundi lainnya juga dirawat di rumah sakit berbeda dengan gejala serupa, termasuk muntah darah dan diare serta mimisan.
"Dia meninggal pada hari yang sama dan pemakaman yang bermartabat dan aman disediakan untuknya," kata Kementerian Kesehatan dalam sebuah pernyataan
Ilustrasi virus.
- U-Report
Negatif Virus Marburg
Pakar kesehatan menduga siswa tersebut meninggal setelah tertular virus Marburg, karena wabah yang sedang terjadi di negara tetangga Tanzania.
Marburg dikenal dengan tingkat kematian kasus yang tinggi dan sifatnya yang mirip epidemi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan di situs webnya.
Juga dikenal sebagai "filovirus" atau sepupu ebola, itu menyebabkan demam tinggi yang dapat dengan cepat berkembang menjadi pendarahan parah yang bisa berakibat fatal.
Pada 22 Maret, delapan kasus marburg terdeteksi di Tanzania, dengan lima pasien meninggal dunia. Seorang petugas kesehatan termasuk di antara korban yang kehilangan nyawa setelah tertular virus.
