Bukan Kurus, Kenapa Stres Bikin Berat Badan Naik hingga Suka Makan Manis dan Gorengan?

Ilustrasi stres kerja
Sumber :
  • Pixabay

VoxPop – Stres tidak bisa dihindari terutama bagi mereka yang tinggal di perkotaan dan pekerja kantoran. Stres sendiri diketahui dapat mempengaruhi pola makan seseorang. 

img_title Ternyata Ini 7 Kebiasaan Orang yang Jarang Stres di Tempat Kerja, Tetap Produktif Tanpa Burnout

Sebagian orang yang dilanda stres mengaku tidak memiliki nafsu makan, alhasil mereka mengalami penurunan berat badan. Namun ada juga dari mereka yang mengalami stres justru meningkatkan nafsu makan mereka.

Alhasil terlalu banyak makan dalam kondisi tersebut membuat berat badan mereka meningkat. Yuk lanjut scroll artikel selengkapnya berikut ini.

img_title Naik Kereta Api Bisa Bantu Kurangi Stres, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Lantas bagaimana stres bisa mempengaruhi pola makan dan penambahan berat badan seseorang?

Melansir laman Clevend Clinic, hubungan antara stres dan kenaikan berat badan itu berkaitan dengan kortisol. Kortisol sendiri adalah hormon yang dilepaskan saat tubuh merasakan stress baik stres fisik maupun psikologis.

img_title Tak Perlu Liburan Mahal, Ini 7 Cara Menghilangkan Stres yang Bisa Dilakukan di Rumah

Ilustrasi stres

Photo :

Sama seperti adrenalin dan norepinefrin, kortisol adalah hormon ‘melawan atau lari’ yang mana hormon ini akan memperlambat proses fisiologis yang tidak penting untuk bertahan hidup dari ancaman langsung dan mempercepat yang Anda butuhkan untuk bertahan hidup pada saat itu.

Dengan kata lain, ketika kadar kortisol naik dapat memicu reaksi berantai. Mulai dari meningkatkan tekanan darah dan produk insulin sekaligus sistem kekebalan tubuh.

Ketika kadar insulin naik, gula darah turun dan membuat Anda menginginkan makanan berlemak dan manis. 

Seiring berjalannya waktu peningkatan kortisol dapat mendatangkan malapetaka pada tubuh. Sebuah studi pada 2017 menunjukkan hubungan antara hormon stress kortisol dan kelebihan berat badan.

Studi itu juga menemukan bahwa kadar kortisol yang lebih tinggi dikaitkan dengan penumpukan lemak di pinggang atau disebut lemak visceral. 

Ilustrasi stres

Photo :

Selain itu di tahun 2015 juga menemukan hubungan antara stress jangka panjang dengan kenaikan berat badan. Dalam studi itu menemukan bahwa metabolisme lebih lambat ketika kita stres.

Sementara dalam sebuah studi di tahun 2017, menemukan bahwa kadar kortisol yang tinggi sebenarnya sebenarnya dapat meningkatkan perasaan puas yang kita alami ketika makan makanan berlemak dan manis. 

Di sisi lain, penting untuk mengatasi masalah stress yang dialami. Jika tidak bisa menyebabkan masalah kesehatan serius seperti rentan penyakit kardiovaskular dan stroke, diabetes tipe 2, meningkatkan risiko kanker.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut