Naik Kereta Api Bisa Bantu Kurangi Stres, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Stasiun kereta api
Sumber :
  • KAI

Jakarta, VoxPop – Perjalanan sehari-hari kerap menjadi salah satu pemicu stres, terutama ketika harus menghadapi kemacetan, ketidakpastian waktu tempuh, hingga kondisi transportasi yang kurang nyaman. Tak heran jika banyak orang merasa lebih lelah secara mental setelah bepergian, meski aktivitas yang dijalani tidak terlalu berat.

img_title Ternyata Ini 7 Kebiasaan Orang yang Jarang Stres di Tempat Kerja, Tetap Produktif Tanpa Burnout

Dalam ilmu psikologi lingkungan (environmental psychology), kondisi perjalanan memiliki pengaruh terhadap suasana hati, tingkat kecemasan, hingga kemampuan seseorang mengendalikan stres. Semakin mudah dan dapat diprediksi sebuah perjalanan, semakin kecil pula beban mental yang dirasakan penumpang.

Transportasi berbasis rel, seperti kereta api, menjadi salah satu moda yang dinilai mampu memberikan pengalaman perjalanan yang lebih tenang. Jadwal yang relatif pasti, minim hambatan lalu lintas, serta ruang yang lebih tertata membuat penumpang tidak perlu terus-menerus menghadapi ketidakpastian selama perjalanan.

img_title Pesan Prabowo Buat Bos KAI: Kita Harus Investasi Lebih Banyak di Bidang Kereta Api

Faktor lain yang juga berperan adalah rasa aman dan kemudahan mengakses layanan. Ketika penumpang tidak perlu khawatir mencari jalur masuk, naik ke kereta, atau berpindah peron, otak tidak bekerja terlalu keras untuk mengantisipasi berbagai hambatan yang bisa memicu stres.

Karena itu, konsep transportasi modern kini tidak lagi hanya mengejar kecepatan atau kapasitas angkut. Banyak operator mulai menerapkan prinsip universal design, yakni merancang fasilitas agar dapat digunakan oleh semua orang, termasuk lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, hingga orang tua yang membawa anak.

img_title Prabowo: Kereta Api Beri Banyak Manfaat, Terutama untuk Rakyat Berpenghasilan Rendah

Fasilitas seperti guiding block bagi penyandang tunanetra, portable ramp untuk pengguna kursi roda, toilet yang ramah disabilitas, ruang laktasi, hingga petugas pendamping merupakan bagian dari pendekatan tersebut. Keberadaannya tidak hanya meningkatkan aksesibilitas, tetapi juga membantu mengurangi kecemasan selama perjalanan.

Akademisi dan Pengamat Transportasi Darat, Djoko Setijowarno, menilai inovasi layanan menjadi bagian penting dalam pengembangan transportasi publik. Menurutnya, aspek inklusivitas kini menjadi salah satu indikator kemajuan layanan karena mampu memberikan pengalaman perjalanan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat.

"Jika dibandingkan dengan sejumlah negara maju, layanan transportasi publik Indonesia sudah mampu bersaing. Pengalaman studi banding ke luar negeri juga memperlihatkan bahwa Indonesia mampu menghadirkan standar layanan yang kompetitif," ujarnya, dikutip Jumat 17 Juli 2026.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut