10 Makanan Favorit Soekarno, Sedapnya Mantul!
- Twitter Kedubes Rusia di Jakarta
Soekarno diketahui gemar bersosialisasi dengan masyarakat Muntok, saat masa pengasingan dan pergolakan politik di Indonesia. Disebut bahwa Bung Karno dulu menyukai kue pelite yang merupakan kue khas Bangka Barat.
Kue ini terbuat dari tepung beras, santan, dan gula putih. Adonan tersebut kemudian dikukus dalam wadah yang dibentuk dari daun pandan.
6. Brongkos dan asem-asem
Brongkos merupakan olahan sayur yang terbuat dari bahan seperti kacang tolo, kluwak, dan melinjo. Sementara, asem-asem merupakan sejenis olahan daging ayam berkuah santan dan dibungkus daun pisang.
7. Bagar Hiu
Seperti dilansir dari Tribun Travel, Soekarno juga menyukai bagar hiu saat pengasingannya di Bengkulu. Saat itu Soekarno diasingkan ke Bengkulu pada 1938 – 1942.
Bagar hiu merupakan salah satu kuliner khas Bengkulu yang langka. Namun bagar hiu cukup populer saat bulan Ramadhan. Sepintas, bagar hiu mirip dengan rendang daging khas Padang.
Namun, bagar hiu tidak dimasak bersama santan melainkan menggunakan kelapa yang disangrai. Selain itu, bagar hiu juga menggunakan daging ikan hiu.
8. Nasi Jagung
Peduli dengan kehidupan para petani yang menyokong Indonesia sebagai negara agararis, Bung Karno juga sangat gemar makan nasi jagung. Menurutnya, nasi jagung melambangkan dunia tani karena energi yang dihasilkan oleh jagung lebih besar dibandingkan dengan beras.
Selain itu, jagung juga memiliki kandungan gula yang lebih rendah dibandingkan nasi dan roti sehingga menjadi lebih sehat. Rutin makan nasi jagung juga menjadi rahasia tubuh fit Bung Karno.
9. Pecel
Saking sukanya dengan pecel, Bung Karno bahkan hingga mengenalkan pecel ke benua Eropa. Ada dua warung pecel di Blitar yang diketahui menjadi tempat langganan Bung Karno untuk menyantap pecel, salah satunya adalah warung pecel Mbok Pin di Jalan Ahmad Yani, Blitar.
Saat berkunjung ke negara-negara di Eropa, Bung Karno seringkali meminta salad tanpa saus yang kemudian ia akan menuangkan bumbu pecel di atas salad yang dipesannya. Bahkan saat di Mongolia, Bung Karno juga mengganti susu kuda yang biasanya dihidangkan untuk menemani roti dengan sambal pecel favoritnya.
